Malang Raya

2016, Beasiswa LPDP Diprioritaskan ke Perguruan Tinggi Dalam Negeri

Peminat beasiswa LPDP selalu meningkat. Tahun lalu ada 40.000 orang yang mengajukan. Namun yang mendapatkan sekitar 4500-an.

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Eko Prasetyo, Dirut LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kemenkeu R 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu RI memprioritaskan pemberian beasiswa program pascasarjana ke perguruan tinggi dalam negeri pada tahun 2016 ini.

Hal itu disampaikan oleh Eko Prasetyo, Direktur Utama LPDP usai sosialisasi kepada dosen dan mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Malang Raya, Selasa (23/2/2016).

"Tahun ini pilihan diarahkan ke PT di dalam negeri sebanyak-banyaknya. Untuk PTN, akrediasinya harus A. Termasuk juga ke PT yang memiliki program kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri," papar Eko ketika bertemu di Hall Usman Mansyur Universitas Islam Malang (Unisma).

Ia mencontohkan untuk kampus kerjasama, penerima beasiswa master bisa kuliah setahun di dalam negeri. Setahun ke luar negeri. "Kampus juga bisa meminta profesor luar masuk ke Indonesia," katanya.

Kata Eko, selama ini, pilihan kuliah masih bebas, termasuk ke luar negeri. Namun kendalanya pada kemampuan bahasa. Sehingga banyak yang gagal.

"Faktor lainnya, selain bahasa adalah soft skill terutama saat wawancara," ujarnya.

Menurut dia, kekuatan karakter seseorang akan terlihat saat proses wawancara. Misalkan apakah dia orang yang bisa mempengaruhi orang lain lewat karyanya.

Dijelaskannya, peminat beasiswa LPDP selalu meningkat. Tahun lalu ada 40.000 orang yang mengajukan. Namun yang mendapatkan sekitar 4500-an.

Ia memperkirakan pada tahun ini pendanaan beasiswa sekitar Rp 1,7 triliun sampai Rp 2 triliun.

"Sedang pada 2015 mencapai Rp 1,3 triliun," kata Arek Malang ini. Sedang pada 2014 mencapai Rp 900 miliar.

Disebutnya, LPDP memiliki dana abadi pada sebanyak Rp 15,6 triliun. Dan pada 2016 akan mendapat tambahan dari APBN Rp 5 triliun. Tambahan itu akan dimasukkan ke dana abadi. Surplusnya sekitar Rp 2,3 triliun.

Dana abadi itu diinvestasikan ke berbagai instrumen keuangan seperti sukuk, obligasi BUMN dll. Sehingga dari hasil investasinya yang didapat per tahun bisa dipakai untuk pemberian beasiswa.

"Kalau hasilnya bagus, maka menjamin kelangsungan program ini selanjutnya," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved