Trenggalek
Kayu Jati Makin Mahal, Nelayan Pantai Prigi Pilih Kayu Kalimantan
Rencananya, perahu dengan panjang 13 meter dengan lebar 2,70 meter itu bakal dipasang dua unit mesin Dong Feng buatan China.
Penulis: Didik Mashudi | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, TRENGGALEK - Saniran (50) perajin perahu di Pantai Prigi bersama dua temannya terlihat sibuk mengukur lembaran kayu.
Belahan kayu ini akan dibuat untuk melengkapi tempat dudukan mesin perahu.
Perahu itu pesanan Ali (42) salah satu juragan nelayan yang tengah membuat perahu baru.
Rencananya, perahu dengan panjang 13 meter dengan lebar 2,70 meter itu bakal dipasang dua unit mesin Dong Feng buatan China.
Meski berukuran cukup besar, perahu ini dipersiapkan untuk nelayan pancing. Dua unit mesin yang disiapkan untuk menambah daya jelajah perahu menjadi lebih jauh.
Para pembuat perahu nelayan saat ini mengandalkan pasokan bahan baku kayu balau dari Kalimantan. Untuk kayu lokal seperti kayu jati berkualitas bagus semakin sulit diperoleh.
"Kayu lokal sudah jarang, kalau ada harganya juga sangat mahal," ungkap Saniran.
Menurut Saniran, kayu Kalimantan memiliki kualitas yang bagus. Daya tahannya mencapai 10 tahun.
Meski sudah hampir rampung, pembuatan perahu itu akan menjalani uji coba melaut. Perahu akan diapungkan untuk mengetahui apakah masih ada bagian yang terdapat rembesan air.
Para pembuat perahu sekarang tidak memakai dempul, tapi mengandalkan lem perekat. Biasanya yang dipakai jenis epoxy adhesive yang memiliki daya rekat lebih kuat dibandingkan dengan dempul.
Namun konsekuensinya biaya pembuatan perahu menjadi lebih mahal. Untuk jenis perahu yang tengah dikerjakan Saniran paling tidak membutuhkan lem sebanyak 200 kaleng ukuran 1 kg.
Sementara Ali sang pemilik perahu baru mengaku sudah habis biaya sekitar Rp 80 juta. Perahu dibuat dengan biaya sendiri dan butuh waktu sekitar dua bulan pengerjakan.
Di kawasan Pantai Prigi memang tidak banyak yang membuat perahu baru. Rata-rata nelayan merehab perahu lama dengan mengganti bagian kayu yang rusak dengan mesin yang baru.
Seperti dilakukan Umar (35) yang memilih memperbaiki perahu lama daripada membuat baru. "Kalau buat baru biayanya mahal sampai puluhan juta. Untuk perbaikan saja habisnya sudah belasan juta," tambahnya.
Merehab perahu lama lebih menguntungkan karena bisnis penangkapan ikan sekarang lagi kurang menguntungkan. Apalagi sekarang persaingan juga semakin ketat karena semakin banyak nelayan yang melaut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/perahu-prigi_20160229_085319.jpg)