Malang Raya
Lubang Bawah Tanah Seluas Satu RW Ini yang Membuat Tanah Ambles di Junrejo Batu
Luasan bekas tambang pasir di dalam tanah tersebut diperkirakan cukup luas atau bisa mencapai luasan satu wilayah RW 8 dusun Jedding.
Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, BATU - Amblasnya tanah di wilayah Dusun Jedding, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu disebabkan bekas tambang pasir karst (pasir putih mengandung kapur di lapisan kerak bumi (krast/crust).
Luasan bekas tambang pasir di dalam tanah tersebut diperkirakan cukup luas atau bisa mencapai luasan satu wilayah RW 8 dusun Jedding.
Ketua RT 4 RW 8, Mulyono mengatakan, eksploitasi tambang pasir di bawah tanah tersebut terjadi pada tahun 1970-an.
Saat itu, pasir karst sangat diminati banyak orang untuk bahan bangunan. Hal itu menjadikan pencari pasir di dalam tanah menjadi pekerjaan sebagian besar warga di Dusun Jedding.
"Dulu di atas wilayah tambang bawah tanah ini belum ada bangunan pemukiman seperti sekarang, dengan begitu aktifitas tambang pasir di dalam tanah tidak banyak diketahui," kata Mulyono, Selasa (1/3).
Para penambang pasir awalnya hanya membuat lubang sumur di satu titik lokasi hingga kedalaman kisaran 15 - 20 meter.
Ketika galian sumur menjumpai pasir karst, barulah mulai ditambang. Aktifitas penambangan pasir di dalam tanah tersebut tidak mengenal batasan tanah di atasnya.
Mereka terus melakukan penambangan tanpa mempedulikan sudah berapa luasan tambang pasir yang ditambangnya. Bahkan, luasan dan tinggi lubang bawah tanah untuk tambang pasir bisa dimasuki truk.
"Mungkin luasan tambang pasir di bawah tanah di wilayah dusun Jedding itu seukuran lapangan sepak bola. Kelihatannya dari luar hanya ada lubang sumur tapi kalau sudah didalam tanah lubangnya sangat besar sekali," ucap Mulyono.
Kegiatan penambangan pasir di bawah tanah tersebut, menurut Mulyono, baru berhenti sekitar tahun 1980-an. Itu setelah keluarnya aturan pertambangan galian C.
"Para penambang menghentikan aktifitas tambang dan membiarkan begitu saja lubang tambang yang digalinya," ucap Mulyono.
Dan sekarang ini, tambah Mulyono, seiring dengan perjalanan waktu ada sebagian lubang begas tambang pasir yang lapisannya menipis. Hingga akhirnya terjadilah tanah amblas setelah lapisan tanah tidak kuat menahan beban tanah di atasnya.
"Seperti musibah tanah amblas yang menimpa rumuh bu Nuraini. Bagi kami kondisi itu wajar sebagai dampak eksploitasi pasir karst," tutur Mulyono.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/tanah-ambles_20160301_131421.jpg)