Senin, 13 April 2026

Malang Raya

Di Balik Keterbatasannya, Mahasiswi Tuna Rungu Ini Punya Kegiatan Mulia

Menurut gadis kelahiran Solo, 19 Oktober 1992, penyandang tuna rungu menjadi korban karena kurang tahu atau polos. Bisa juga karena kurang pengawasan

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: musahadah
surya/sylvianita widyawati
Oktaviany Wulansari 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Oktaviany Wulansari (23), mahasiswa Psikologi FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang merasa iba melihat para penyandang tuna rungu yang menjadi korban tindak asusila, 

Karena itulah, mahasiswa semester 6 yang juga penyandang tuna rungu ini tertarik mengadvokasinya. 

"Saya ingin membantu teman-teman tuna rungu," kata gadis berparas manis kelahiran Solo kepada SURYAMALANG.COM, di kampusnya, Senin (7/3/2016).

Selama percakapan dengan Ovik ada relawan Rafida Riahta, asisten dosen Psikologi yang membantu menerjemahkan pembicaraan.

Dengan bahasa isyarat, gadis berhijab ini menceritakan pengalamannya membantu korban asusila penyandang tuna rungu di beberapa daerah.

Menurut gadis kelahiran Solo, 19 Oktober 1992, penyandang tuna rungu menjadi korban karena kurang tahu atau polos. Bisa juga karena kurang pengawasan orangtua.

Para penyandang tuna rungu ini biasanya takut berkomunikasi dengna polisi. Dari sinilah Ovik membantu mendekati korban dan mengorek keterangannya. 

Hasil komunikasi dengan korban kemudian disampaikan ke polisi.

Selama bertugas rata-rata mereka percaya ke Ovik karena sama-sama penyandang tuna rungu.

Dia telah beberapa kali mendampingi korban tuna rungi di Solo, Jember dan Jombang.

Duta Favorit FISIP UB pada 2014 ini menyukai tugasnya ini.

"Saya senang. Tantangannya adalah meski bahasa isyarat sama, namun kemampuan mengekspresikan tidak sama," tutur anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bambang Sumpeno-Heni Widianti ini.

Kemampuan mengekspresikan sesuatu tidak sama pada korban biasanya karena orang tua terlambat penanganan. Bisa juga karena anak atau orangtua tertutup sehingga kurang sosialisasi.

Tentang kuliahnya di Psikologi, Ovik mengaku sudah cocok. "Alhamdulllah cocok. Memang ada kesulitan beberapa materi. Sehingga harus mengejar ketertinggalan," tutur alumnus SMA Luar Biasa di Solo ini.

Saat kuliah,  PSLD (Pusat Studi dan Layanan Disabilitas) Universitas Brawijaya menyediakan relawan sehingga membantu dia menguasai materi kuliah.

"Kadang dibantu teman-teman. Mereka akhirnya tahu bahasa isyarat karena kenal sejak semester 1," ungkapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved