Breaking News:

Gerhana Matahari

Hasil Foto Rontgen Paru-paru Raisa Dipakai Mengintip Gerhana

Tidak mau kalah, sang paman, Syaiful Ipong mengeluarkan plastik hasil foto rontgen. Foto rontgen itu menunjukkan pemeriksaan paru-paru anak perempuann

surya/sri wahyunik
Usai mengikuti shalat gerhana di Masjid Agung Jami Malang warga beramai-ramai melihat gerhana matahari, Rabu (9/3/2016). 

“Biar anak-anak belajar tentang salat gerhana, juga belajar ilmu pengetahuan tentang gerhana,” ujar Ipong.

Ipong dan Zainal sengaja memilih tempat salat di paving Alun-Alun Kota Malang yang berada di depan masjid itu.

Dari tempat terbuka itu, mereka bisa menyaksikan gerhana sambil mendengarkan khutbah tentang fenomena gerhana itu.

Hal ini tentunya berbeda dengan fenomena gerhana matahari serupa di tahun 193 atau 33 tahun silam. Ketika matahari melewati Indonesia saat itu, sebagian besar rakyat Indonesia memilih tidak keluar rumah karena takut dan dilarang.

Bukti Kebesaran Tuhan

Dalam khutbahnya, KH Baidlowi Muslih yang bertindak selaku imam, mengingatkan jamaah bahwa fenomena gerhana merupakan keagungan Allah SWT. “Kita harus bersyukur masih diberi kesehatan karena masih bisa melihat fenomena alam ini, gerhana matahari,” ujarnya.

Menurutnya gerhana merupakan bukti keagungan Tuhan. Karenanya umat Islam dianjurkan untuk memuji kebesaran Tuhan (mengucap takbir), melakukan salat, dan bersedekah. Ia mengutip sebuah hadist yang meriwatkan fenomena gerhana di jaman Rasulullah Muhammad SAW.

“Rasul mengatakan kalau gerhana tidak berkaitan dengan kematian dan kelahiran seseorang, itu merupakan bukti keagungan Tuhan. Ketika ada gerhana di jaman Rasul, bareng dengan meninggalnya putra beliau. Bulan dan matahari merupakan ayat Allah, dan itu sebagai bukti kebesarannya. Apalagi matahari ini juga sumber kehidupan jika bergerak,” tegasnya.

Warga yang salat gerhana di masjid itu membeludak. Masjid yang mampu menampung 3.000 orang itu penuh, sampai ke anak tangganya. Mereka yang tidak kebagian tempat terpaksa menggelar alas salat di trotoar, jalan, dan taman ALun-Alun Kota Malang. Ny Uswatun, seorang warga asal Gadang terlambat beberapa menit. Ia tiba ketika salat sudah berlangsung, dan kesulitan mencari tempat karena penuhnya kendaraan di sekitar masjid.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved