Malang Raya

Alasan Peternak Sapi Malang Tolak Sapi dari India

Peternak sapi di Malang Raya menolak rencana pemerintah membuka kran sapi impor dari India.

Alasan Peternak Sapi Malang Tolak Sapi dari India
suryamalang.com/sri wahyunik
Ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Peternak sapi di Malang Raya menolak rencana pemerintah membuka kran sapi impor dari India. Mereka khawatir sapi dari India akan menularkan penyakit mulut dan kuku.

Selain itu, masuknya sapi dari India ke Malang Raya bakal membuat harga pasaran turun drastis. Ini disebabkan harga daging sapi di India amat murah sehingga berpotensi mematikan usaha para peternak di Malang Raya.

Karyadi, peternak dari Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kabupaten Malang, mengatakan, masuknya daging sapi dari India akan mengurangi porsi penjualan para peternak.

Selama ini, sapi hasil kelompok ternak di desanya dijual ke tengkulak dengan harga antara Rp 25 juta sampai Rp 30 juta per ekor bergantung bobot. Apabila sapi dari India masuk, ia khawatir harga sapi petani anjlok akibat daya saing.

“Jika demikian, akan merugikan kami. Apalagi bagi kami yang mata pencahariannya hanya beternak sapi. Di kelompok peternak di desa saya, jumlah sapinya total 150-an. Dan itu 30 persen sapi potong,” katanya, Kamis (17/3/2016).

Peternak lain, Miselan, warga Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, mengatakan, dampak apabila daging sapi dari India masuk akan sangat menggerikan.

Pasalnya, selama ini di daerahnya, kasus penyakit mulut dan kuku tidak pernah ada. Jika sapi dari India masuk, ia khawatir sapi itu akan menularkan penyakit dan mewabah. Sama dengan Karyadi, ia juga khawatir harga jual daging sapi akan turun jika harus bersaing dengan daging sapi dari India.

Pembina Kelompok Peternak Sapi Potong Malang Raya, Hermanto, menyampaikan hal serupa. Dari perhitungannya, harga daging sapi dari India jika masuk ke Malang Raya bisa hanya Rp 60.000 per kilogram (kg). Padahal, harga rata-rata di Malang Raya saat ini Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kg.

“Jika harga di sini turun hingga Rp 70.000 saja per kg, maka akan sangat mengancam peternak. Ini berbeda dengan impor sapi dari Australia yang dari segi harga masih bisa bersaing dengan harga sapi dari peternak,” kata dia, sela acara Deklarasi Penolakan Rencana Impor Sapi dari India di Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (17/3/2016).

Atas dasar itu, dalam kegiatan tersebut, 380 kelompok peternak sapi di Malang Raya binaan badan itu, sepakat penolak rencana peraturan tersebut di Malang Raya. Apalagi, pengembangan peternakan sapi saat ini tengah didorong dengan cara dikerjasamakan dengan industri besar dengan sumber pembiayaan dari perbankkan.

Cara ini dianggap sebagai pengembangan usaha peternakan sapi di Malang Raya. Itu sebabnya, pria yang sekaligus dosen di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya itu berharap pemerintah tak merecokinya rencana impor dari India.

“Harga sapi dari India kenapa murah? Karena masyarakat di sana tidak mengonsumsi sapi. Masalah kesehatan sapi di sana juga tidak begitu diperhatikan,” tambahnya.

Ia menyebut, selama ini sapi di Malang Raya justru banyak dikirim ke daerah lain di Jawa Timur karena Malang Raya masih surplus. Daerah utama yang dituju adalah wilayah pantai utara.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Sudjono menambahkan, pihaknya saat ini tengah menyusun berkas saran penolakan rencana impor daging sapi dari India kepada pemerintah pusat. Jika hal itu sampai terjadi, ia khawatir Kabupaten Malang peternak sapi di Kabupaten Malang akan mengalami kesusahan seperti pada 2009 hingga 2010.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved