Malang Raya
Ini Cara Komunitas Urip-urip Memanfaatkan Ruang Publik untuk Mengapresiasi dan Memperkenalkan Seni
M.Nashir, penggagas acara mengaku prihatin kesenian di Kota Malang belum tersentuh oleh masyarakat luar bahkan masyarakat Kota Malang.
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Joannes, warga asal Nusa Tenggara Barat (NTB) tampak serius mengawasi pertunjukan seni di Alun-alun Kota Malang, Kamis (28/4).
Saat itu Suwarno, seniman dari Komunitas Urip-urip tengah membacakan puisi sekaligus memainkan wayang.
Meskipun ia tak mengerti apa maksud yang dipentaskan, ia tetap menikmati sampai selesai mulai dari pembacaan puisi, karawitan, teater pantomime jalanan hingga pertunjukan wayang ringkes.
Sesekali ia nyeloteh ke temannya. “Itu bicara apa kok hanya teriak-teriak. Sepertinya itu sekadar pura-pura saja. Tetapi menarik sekali acting yang dilakukan mereka,” ujar dia saat melihat pertunjukan teater pantomime jalanan.
Selain Joannes, warga lain tak kalah tak kalah antusiasnya. Mereka mendekat dan berusaha mengabadikan foto sambil terpaku pada adegan demi adegan.
Pertunjukan ini untuk memperkenalkan ke masyarakat bahwa Kota Malang penuh dengan kebudayaan.
M.Nashir, penggagas acara mengaku prihatin kesenian di Kota Malang belum tersentuh oleh masyarakat luar bahkan masyarakat Kota Malang.
Alun-alun dipilih karena pas untuk menarik banyak massa, sehingga banyak dikenal masyarakat luas.
“Banyak memang pertunjukan seni, tetapi hanya diadakan oleh mahasiswa, dan itu konsepnya hanya seputar mahasiwa atau pihak interen itu sendiri. Sehingga masyarakat luas masih banyak yang belum tahu tentang kesenian di kota malang. Kalau di Alun-alun ini kan banyak yang berkunjung di sini, harapannya siapa saja bisa lihat dan akhirnya jadi tahu,” ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/wayang-ringkes_20160429_103842.jpg)