Malang Raya
BPBD : Jangan Bermain dan Mandi di Pantai Selatan, Dinikmati Saja
"Pantai selatan itu mulai dari Banyuwangi, sampai Ujung Kulon (Banten) sana itu, pemandangannya memang indah. Pantainya bagus, tetapi ombaknya besar,"
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Pemandangan pantai di kawasan laut selatan (Samudra Indonesia) terkenal indah. Tidak terkecuali yang ada di Kabupaten Malang.
Dan keindahan itu hanya layak untuk dinikmati, dengan cara dilihat saja. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Bagyo Setiyono, usai mengantarkan jenazah M Faris Al-Fafan Kha'lilan ke Instalasi Pemulasaraan Jenazah (Kamar Mayat) RS Saiful Anwar Kota Malang, Selasa (17/5/2016).
"Pantai selatan itu mulai dari Banyuwangi, sampai Ujung Kulon (Banten) sana itu, pemandangannya memang indah. Pantainya bagus, tetapi ombaknya besar. Memang untuk dinikmati, tetapi caranya dengan melihatnya saja. Bukan untuk bermain dan mandi. Kecuali untuk surfing, kalau untuk surfing malah bagus," ujar Bagyo kepada SURYAMALANG.COM.
Karenanya, pihaknya selalu menghimbau kepada pengunjung pantai selatan untuk tidak bermain-main terlalu dekat dengan air laut. Beberapa kasus orang tenggelam, terjadi karena mereka berfoto membelakangi ombak dan tidak mengetahui ombak besar datang.
Ada juga yang mandi, kemudian tergulung ombak, atau hanya bermain di tepi pantai kemudian tergulung ombak.
Sejumlah pihak, lanjutnya, telah memasang rambu-rambu larangan mandi di laut selatan Kabupaten Malang. Hanya saja, rambu-rambu itu kadang kala dilanggar oleh pengunjung.
"Kami selalu minta juga selalu berhati-hati," tegasnya.
Ia juga menyentil beredarnya foto indah pantai selatan di media sosial. Ia mengakui, foto-foto itu menjadi ajang promosi gratis bagi keindahan pantai selatan, sehingga lebih banyak pengunjung datang.
"Hanya saja di sejumlah pantai, tidak siap dengan piranti keselamatan. Seperti penjaga pantai (beach guard), dan peralatan penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat," imbuhnya.
Seperti Pantai Sendiki di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan, yang menelan korban jiwa M Faris Al-Fafan Kha'lilan (19), mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pengunjung harus membayar retribusi untuk masuk ke kawasan pantai tersebut.
Karena terkena kecelakaan di pantai itu, keluarga Faris akan mendapatkan asuransi. Pihak Perhutani sendiri juga memberikan santunan sebesar Rp 5 juta kepada keluarga. Santunan seperti ini, sebelumnya juga diberikan kepada dua orang mahasiswa Universitas Brawijaya yang tenggelam di Coban Tundo Telu Kabupaten Malang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/pantai-sendiki_20160516_232857.jpg)