Blitar
Duar. . . Dua Jari Bocah SD ini Putus
"Untuk jari manisnya, harus diamputasi. Sebab kata dokternya, supaya lukanya nanti tak menjalar ke tempat lain,"
Penulis: Imam Taufiq | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, BLITAR - Apes dialami Riki Susanto (10), bocah asal Dusun Sukomulyo, Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar ini. Tak menyangka petasan yang dipegangnya itu meledak, tangan kirinya terluka parah, Selasa (15/6/2016) siang.
Akibatnya, Selasa siang kemarin itu, siswa kelas 5 SDN Gandusari 2 ini angsung dibawa ke RSUD Ngudi Waluya, Wlingi karena dua jari tangan kirinya putus. Yakni, jari manis dan kelingkingnya. Bahkan, telapak tangan kirinya juga robek, dan harus dijahit beberapa jahitan.
"Untuk jari manisnya, harus diamputasi. Sebab kata dokternya, supaya lukanya nanti tak menjalar ke tempat lain," tutur Ny Ninik Triningsih (42), ditemui di rumahnya.
Ninik menuturkan, kejadian yang dialami anak ketiganya itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu, korban baru pulang sekolah, sedang dirinya lagi memasak di dapur. Tanpa melepas baju seragamnya, korban tiba-tiba mengambil korek api di dapur.
"Saat itu, tangannya menenteng dua petasan. Namun, saya biarkan, karena petasannya cukup kecil dan itu sering disulutnya," ungkapnya.
Menurutnya, dua petasan itu dibeli anaknya, dari uang saku sekolahnya. Sebab, korban lagi puasa, sehingga tak jajan. Namun, uang saku sekolahnya Rp 2 ribu itu dibelikan dua buah petasan tersebut.
"Saya nggak tahu, petasan itu beli di mana. Wong, pulang sekolah sudah bawa petasan. Mungkin saja, dia beli pada penjual kembang api keliling" tuturnya.
Usai mengambil korek api dapur, korban lari ke depan rumahnya. Dua petasannya itu disulut di jalan kampung, depan rumahnya. Itu pun, dia sendiri karena teman-teman sebayanya lagi sepi. Tak berselang lama, terdengar duar, suara ledakan sekali. Namun, bersamaan terdengar suara ledakan sekali itu, korban menjerit dan menangis.
"Mak mak (ibu ibu), tangan ku kena," teriak korban sambil memanggil ibunya.
Karuan, Ninik langsung berlari ke depan rumah. Ternyata, darah segar mengucur dari tangan kiri anaknya. Seketika itu, Ninik juga panik dan menjerit histeris. Sebab, ia lagi sendiri di rumah katena suaminya, Siswato lagi ke sawah.
Meski tangan kirinya terluka parah, namun korban tak sampai pingsan dan hanya terus menangis.
"Kini kondisinya sudah mulai membaik karena sudah bisa tidur. Beda sama kemarin, dia menangis terus," ujar Ninik sambil menunggui anaknya tidur.
Setelah pulang dari RS, menurut Ninik, anaknya baru bercerita apa yang dialaminya kemarin. Menurutnya, saat itu dia baru akan menyulut salah satu petasannya. Itu ditancapkan di tanah. Sedang, satu petasannya lagi dipegang tangan kirinya.
Namun, entah kenapa, saat menyulut petasan yang ditancapkan di tanah itu, tiba-tiba keduanya ikut meledak.
"Kemungkinan, petasan yang dipegang anak saya itu tersambar ledakan petasan yang disulutnya," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/petasan_20160615_182213.jpg)