Malang Raya
Waspada! Uang Palsu Saat Ramadan, Terbanyak Pecahan Rp 100.000
Bank Indonesia Malang minimalkan peredaran uang palsu dengan langkah ini
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Penukaran uang melalui mobil kas keliling dan bank umum menjadi langkah Bank Indonesia mereduksi peredaran uang palsu.
Seperti diberitakan, sejak Rabu (15/6/2016) 11 mobil kas keliling melayani warga Malang Raya terkait penukaran pecahan uang kecil. Bank umum juga melayani penukaran uang tersebut.
"Ini langkah kami juga meminimalkan peredaran uang palsu di masyarakat," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang Dudi Herawadi, Kamis (16/6/2016).
Ia mengakui kesadaran masyarakat akan uang palsu sudah lebih baik. Akan tetapi seiring tingginya tingkat transaksi masyarakat di bulan Ramadan, dikhawatirkan ada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab mengedarkan uang palsu.
"Masyarakat harus tetap waspada terhadap peredaran uang palsu, terutama di bulan Ramadan ini," lanjutnya.
Berdasarkan data dari BI Malang, mulai Januari - Mei 2016, ditemukan 3.600-an lembar uang palsu.
Upal itu antara lain terdiri dari lembaran seperti Rp 100.000, Rp 50.000, juga Rp 20.000.
"Paling banyak pecahan yang menyerupai Rp 100.000 tetapi itu palsu," imbuh Rini Mustikaningsih, Deputi BI Malang Bidang Sistem Pembayaran dan Manajemen Intern (SPMI).
Jumlah tersebut, kata Rini, naik sekitar 20 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan penemuan uang palsu ini ada sejumlah faktor.
"Bisa karena masyarakat yang makin sadar, ada juga karena kesigapan petugas bank. Karena kebanyakan uang palsu ini ditemukan oleh pihak bank umum," lanjutnya.
Himbauan kewaspadaan terhadap uang palsu ini juga disampaikan pihak kepolisian, seperti dilakukan oleh Kapolsek Blimbing Kompol Gatot Setiawan. Apalagi pihaknya baru menangkap pengedar uang palsu di sekitar Terminal Arjosari, Blimbing, Kota Malang.
"Bulan Ramadan ini, saya menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap segala macam tindak kriminalitas, seperti peredaran uang palsu, pencurian, copet, juga gendam ataupun penipuan," ujar Gatot, Kamis (16/6/2016).
Kamis *16/6/2016) pagi, seorang pedagang jeruk di seputaran Terminal Arjosari mendapati seorang pembeli yang membayar memakai uang palsu. Si pembeli membayar memakai uang pecahan Rp 100 ribu. Sekilas uang itu terlihat asli, ternyata setelah diteliti, uang itu ternyata palsu.
Si pedagang mencari pembeli yang belum jauh itu, dan melaporkannya ke polisi. Pedagang itu merasa rugi karena ia memberikan uang kembalian asli. Kini polisi masih mendalami kasus itu.
'Masih kami dalami, apakah dia memang pernah beraksi sebelumnya atau tidak. Nanti kalau penyelidikan sudah selesai, tentunya kami informasikan kepada wartawan. Pokoknya saya menghimbau kepada masyarakat supaya berhati-hati," tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/ilustrasi-uang_20160519_214848.jpg)