Malang Raya
Penari Didik Nini Thowok Berbagi Kisah dan Berbagi Ilmu Tari di Kota Malang
“Kota Malang merupakan kota yang patut diacungi jempol. Patut dibanggakan karena keseniannya terus jalan dan terus diwariskan untuk generasi penerus"
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Bagi yang suka menyaksikan acara televisi nasional, TVRI, setiap Sabtu malam pada tahun 90an, dan melihat penampilan seniman sekaligus penari yang terkenal dengan tarian dua muka, itulah Didik Nini Thowok (62). Lelaki kelahiran Yogjakarta 13 November ini begitu tiba di Kampung Tjelaket, tepatnya di Sanggar Sasana Kridha Budaya, langsung disambut hangat oleh warga Kota Malang, Sabtu (6/8/2016).
Jika di televisi, ia tampil menggunakan sanggul lengkap dengan pakaian adat, serta topeng, kali ini berbeda. Hanya memakai kaos hitam dan memakai celana panjang dibalut oleh sarung batik, ia langsung mengajak warga di Jalan Tretes Selatan, menari bersama. Hanya berbekal selendang saja, gerakannya langsung diikuti oleh puluhan warga.
Dengan luwes, pemilik nama lengkap Didik Hadiprayitno ini melanggak-lenggokkan badannya menari diiringi musik gamelan. Didik tak menyangka jika antusias warga di sini benar-benar mengenal sosoknya. Bahkan, ia juga dikenal oleh anak kecil berusia 5 tahun yang memang berkecimpung di dunia seni tari.
Tarian yang berlangsung selama 15 menit itu, dilanjutkan dengan sharing bersama Didik. Ia tidak membatasi diri dengan warga. Justru ia mengajak warga untuk berdekatan dengannya, lantas banyak warga yang mengajak Didik untuk berfoto.
Lelaki murah senyum itu, menjawab semua pertanyaan dari penggemarnya. Satu di antara pertanyaan yakni ia harus menjawab asal usul nama Nini Thowok. Dengan mengenang masa kecilnya, Didik menjawab sembari diiringi nyanyian yang ia nyanyikan.
“Nama Nini Thowok itu mengingatkan saya pada masa kecil. Nama itu pada zaman dulu digunakan untuk permainan yang mirip sama jelangkung. Boneka dari batok kelapa sebagai kepalanya. Nah saya juga tidak tahu nama itu pemberian dari orang tua saya,” terang dia sembari duduk di kursi sofa dan dikelilingi oleh anak-anak yang mendengarkan ceritanya.
Lalu, lanjut dia, karena boneka mirip jelangkung itu didandani mirip anak perempuan yang cantik. Rambutnya dibentuk dari daun-daunan dan kembang sehingga terlihat cantik. “Mungkin mirip saya waktu itu ya,” celatu dia kemudian disahut oleh tawaan yang keras. Sementara, kata Nini berasal dari sebuah tembang yang sering ia nyanyikan. Bisa jadi lagu ‘lir ilir’ atau tembang yang lain.
Saat diwawancarai, ia sangat terkesan dengan warga Kota Malang yang masih kental dengan keseniannya. Bahkan, ia tak menyangka dan sangat bangga ada anak yang masih kecil mau belajar tarian. Dibanding di kota besar, hal itu sangat jarang terjadi.
“Kota Malang merupakan kota yang patut diacungi jempol. Patut dibanggakan karena keseniannya terus jalan dan terus diwariskan untuk generasi penerus. Tidak menyesal datang ke sini,” tuturnya. Nantimya, ia akan tampil pada acara di Stadion Gajayana dan berkolaborasi dengan kelompok Ludruk di Kota Malang pada 20 Agustus ini.
Nanda, warga kelurahan Rampal Tjelaket mengatakan, dirinya mengenal sosok Didik Nini Thowok karena kerap meniru gerakan tarian khas ala Didik. “Susah menirukan gerakannya eyang Nini. Saya ingin terus belajar menari apalagi kalau gurunya eyang Nini Thowok,” tutur siswa kelas 3 SD ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/penari-didik-nini-thowok-berbagi-kisah-dan-berbagi-ilmu-tari-di-kota-malang_20160807_002435.jpg)