Malang Raya

Aremania yang Dideportasi ke Turki Ingin Nikahi Wanita Indonesia

Kemal sudah menyebut dirinya sebagai Arema. Dia juga seorang Aremania dan mendukung kesebelasan Arema Cronus.

Aremania yang Dideportasi ke Turki Ingin Nikahi Wanita Indonesia
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Tiflis Kemal (kanan) Arema berwarganegaraan Turki akan dideportasi, Rabu (10/8/2016). 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Petugas Kantor Imigrasi Malang terpaksa mendeportasi warga negara asing yang belum habis masa tinggalnya di Indonesia. WNA itu, Walid NR (37) warga negara Libya dideportasi, lantaran membuat kericuhan di Kota Malang.

Kasus ini jarang ditangani oleh Kantor Imigrasi Malang. Deportasi WNA didominasi oleh WNA yang melebihi izin tinggal atau menyalahgunakan visa.

Walid mengantongi visa wisata yang berlaku 30 hari sejak 1 Juli hingga 2 Agustus 2016. Tetapi sebelum masa tinggalnya habis, Walid membuat gara-gara sehingga dilaporkan ke polisi dan diteruskan ke petugas Imigrassi. Walhasil petugas Imigrasi menahannya dan mendeportasinya, Selasa (9/8/2016).

Walid membuat kericuhan di sebuah kafe di Kota Malang. Ia memecahkan gelas dan mengancam pegawai kafe itu hingga dilaporkan ke polisi pada 11 Juli lalu. Ia tiba dari Malaysia ke Kota Malang awal Juli. Ia tinggal bersama beberapa mahasiswa asal Libya yang kuliah di Malang.

Walid sebelumnya pernah kuliah di sebuah universitas negeri di Kota Malang tahun 2013. Tetapi selama dua semesterr, dia tidak melakukan datar ulang, seingga kampus tidak lagi mensponsorinya. Walid kemudian pergi ke Malaysia.

Awal Juli lalu, ia datang kembali ke Kota Malang memakai visa wisata.

"Kalau izin tinggalnya tidak masalah, dia kami deportasi karena membuat kericuhan. Petugas Imigrasi bisa mendeportassi WNA yang membahayakan dan mengganggu ketertiban umum, mengacu kepada Pasal 75 UU Keimigrasian No 6 Tahun 2011,' ujar Kepaala Sub Seksi Pengawasan Kantor Imigrasi Malang Guntur Sahat Hamonangan.

Pendeportasian Walid ke negaranya memakai anggaran negara Indonesia. Sebab Walid mengaku tidak punya keluarga yang bisa menanggung biaya tiket kepulangan.

Selama sebulan ditahan di Kantor Imigrasi Malang, Walid juga membuat kekacauan. Dia membuka penutup selnya. Walhasil, sejumlah pencari paspor bisa melihat dirinya yang dikurung di dalam teralis besi. Teralis besi itu biaasanya ditutup setengah badan memakai asbes.

"Selama ditahan, dia juga bikin kekacauan. Penutup sel dia buka, meskipun tidak bisaa membuka teralis besi tahanan,' lanjut Guntur.

Halaman
12
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved