Breaking News:

Malang Raya

Benalu Teh Bikin Nour Athiroh dari Unisma Jadi Dosen Berprestasi Wilayah Kopertis VII Jatim

Nour Athiroh, Dosen Biologi Universitas Islam Malang (Unisma) akan menerima penghargaan dari Kopertis VII Jatim

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Nour Athiroh, dosen Universitas Islam Malang (Unisma) meraih juara III dosen terbaik di wilayah Kopertis VII Jawa Timur 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Nour Athiroh, Dosen Biologi Universitas Islam Malang (Unisma) akan menerima penghargaan dari Kopertis VII Jatim pada 17 Agustus 2016 karena terpilih sebagai dosen berprestasi ketiga.

Yang membuatnya bangga, ia satu-satunya wakil dosen berprestasi dari PTS di Malang. Dosen berprestasi pertama diraih oleh Felycia Edi Soetaredjo dari Unika Widya Mandala Surabaya. Sedang dosen berprestasi kedua adalah Markus Hartono dari Universitas Surabaya.

Kegiatan pemilihan dosen prestasi diikuti 30 dosen dari berbagai PTS di Kopertis VII Jatim. Kemenangan itu diperolehnya pada Juni 2016 lalu. "Ya, Alhamdullilah. Saya bersyukur dengan penghargaan ini," kata Athiroh (47) kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (12/8/2016).

Wanita kelahiran Sampang, 17 Juli 1969 ini menyatakan dikirim Unisma karena memiliki data yang cukup untuk dosen prestasi. Setelah lolos administrasi, maka ia harus melakukan presentasi dalam Bahasa Inggris. Presentasinya adalah penelitian unggulannya dalam kurun tiga tahun terakhir.

Ia mengangkat tentang benalu teh untuk menurunkan hipertensi. Uji cobanya dilakukan pada tikus putih yang dihipertensikan selama enam minggu antara lain dengan garam. "Ini tantangan berat dan sempat stres juga karena awalnya gagal," jelas ibu tiga anak ini.

Penelitian benalu teh ia rintis sejak 2000 sampai sekarang. "Benalu teh biasanya dibuang karena dianggap merusak tanaman teh. Ternyata Allah menciptakan benalu itu ada manfaatnya bisa menurunkan hipertensi," kata dosen Biologi ini.

Benalu tehnya dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven. Kemudian dihancurkan dan dilarutkan dalam metanol semalam dan dikocok dengan manual meski ada alat shaker (pengocok). Pada 2015, ia mendapat dana hibah dikti untuk uji toksikolgi melihat keamanan benalu.

Untuk itu dilakukan uji coba pada tiga hewan berbeda yaitu tikus putih, menchit(tikus kecil) dan di ikan zebra. Ujicoba pada binatang berkelamin jantan dan betina. "Ternyata tidak ada abnormalis pada mereka," katanya. Untuk mengasup cairan benalu teh, menchit dan tikus disuapi.

Penelitian ini juga berhasil menjadi buku "Menguak Misteri Benalu Teh". Setelah memang di tingkat wilayah kopertis VII, maka ia harus mempersiapkan diri ke tingkat nasional.

Menurut dia, jika penelitian ini nanti bisa diimplementasikan ke manusia, maka penderita hipertensi akan mendapatkan dengan harga murah. "Memang tidak secepat minum obat hipertensi langsung turun," ungkapnya. Cara mengonsumsinya nanti cukup direbus air.

"Saya sudah ada rencana akan mengombinasikan dengan benalu mangga, sisrsak atau kelor," ujar peneliti yang karyanya sudah banyak ke jurnal ilmiah ini. Cita-citanya adalah membuat benalu celup sehingga bisa untuk minuman kebugaran karena ada antioksidannya.

Ia berharap, benalu-benalu tidak dibuang karena kemanfaatannya besar. Sebab dari data empiris, benalu untuk menurunkan tekanan darah. Di masyarakat, benalu teh juga kerap disebut bisa jadi obat anti kanker.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved