Kamis, 11 Juni 2026

Malang Raya

Sungguh Mulia, Dosen UM Ini Dirikan Rumah Alat Musik Tradisional Pertama di Kota Malang

Alat musik itu seperti Kecapi, Kipa, Sape’, Angklung, Karalas, Bongo, Jimbe, Suling, Kendang, Cuk, dan masih banyak lagi

Tayang:
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Maryaeni, Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang, Pendiri Rumah Musik Tradisi di Kota Malang, saat mencoba memainkan alat musik tradisional, Selasa (23/8/2016). Ada ratusan alat musik tradisional yang ia miliki di ruangan khusus berukuran sekitar 3x10 meter. 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU – Maryaeni (55), dosen Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang (UM) ini merelakan sebagian rumahnya untuk dijadikan rumah khusus alat musik tradisional. Saat ditemui di kediamannya di Jalan Bendungan Riam Kanan, dalam ruangan berukuran sekitar 3x10 meter, ia sedang asik menata alat musiknya yang jumlahnya ada ratusan, Selasa (23/8/2016).

Hanya menggunakan kaos warna hitam, sesekali ia mencoba memainkan beberapa alat musik. Bisa dikatakan, rumah khusus alat musik tradisional ini pertama di Kota Malang. Lain halnya dengan Museum Musik Indonesia (MMI).

Alat musik itu seperti Kecapi, Kipa, Sape’, Angklung, Karalas, Bongo, Jimbe, Suling, Kendang, Cuk, dan masih banyak lagi. Alat musik itu ada yang diletakkan di atas lemari, ada yang digantung dengan rapi, ada pula yang diletakkan di lantai. Keinginannya untuk memiliki rumah musik tradisi sudah sangat lama ia idamkan. Baru sekarang ia bisa mewujudkan keinginan itu.

Maryaeni, memiliki alasan khusus untuk membuat rumah musik tradisi. Yakni ia sangat prihatin dengan anak-anak saat ini yang seolah acuh tak acuh terhadap alat musik tradisional. Ia sangat khawatir apabila suatu saat nanti alat musik tradisional yang jumlahnya beragam ini semakin ditinggalkan dan semakin dilupakan. Oleh karena itu, dari perjuangannya memiliki alat musik tradisional inilah, muncul ide untuk mendirikan rumah khusus alat musik tradisional.

“Mumpung saya masih ingat. Karena kekhawatiran saya alat-alat ini tidak akan bertahan lama kalau tidak dilestarikan dan diperkenalkan oleh anak-anak kita. Kasihan kalau nanti alat musik tradisional ini punah,” tutur dia.

Alat musik tradisional yang dimiliki oleh ayah dua orang anak ini, beragam jenisnya. Soal kepemilikan, diakuinya ada yang didapatnya dari pemberian temannya, ada juga yang memang ia miliki sejak awal. Semisal, ia menunjukkan alat musik tradisional Rebab yang ia dapatkan dari kawan seniman dari Tuban bernama Hewot. Ada lagi, Kendang berwarna merah maroon berusia 80 tahun yakni dia dapatkan dari seorang dosen Sastra bernama Sunoto pada tahun 1930.

“Ini Kendang ini termasuk kendang kesayangan saya. Usianya lebih tua dari saya. Dan sampai saat ini masih bisa digunakan dan masih awet,” tuturnya sembari menunjukkan Kendang yang ia letakkan di atas lemari.

Tak hanya alat musik tradisional asli Indonesia saja, adapun alat musik tradisional asal London, yakni Flute yang ia dapatkan sekitar tahun 1960. Selain itu juga ada Siter, yang ia dapatkan tahun 1970. Maryaeni tak hanya memiliki alat musik ini saja, tetapi dari semua alat musik yang ada ini, hampir semua juga ia bisa memainkan. Karena masih baru dilaunching Sabtu (20/8/2016), rumah musik tradisi ini masih sepi dan belum banyak yang tahu keberadaannya.

Saat launching, ada beberapa seniman yang menghadiri pembukaan rumah musik tradisi ini. Di antaranya, Didik Nini Thowok, Ki Soleh Tumpang, Memed Choirul Dosen ISI Jogja. Ke depan, Maryaeni yang juga aktif di bidang kebudayaan, akan menjadikan rumah musik tradisi ini sebagai rumah pembelajaran bagi siapa pun.

“Akan saya ramaikan dan akan saya ajak anak-anak dari sekolah-sekolah untuk belajar alat musik di sini. Belajar bagaimana bermain alat musik Siter, Kontra Bas. Bagaimana membuat mereka ketagihan dengan alat musik tradisi ini,” harapnya yang masih aktif bermain Jimbe di usianya yang sudah tak lagi muda.

Maryaeni menegaskan, rumah musik tradisi ini memiliki visi dan misi untuk mendidik dan melestarikan budaya leluhur bangsa. Jika suatu saat ada yang tertarik kemudian ingin memiliki alat musiknya dengan membeli, ia menolak dengan keras. Karena, rumah musik tradisi ini dia dirikan untuk media pembelajaran bagi penerus bangsa.

“Siapa saja boleh ke rumah. Walaupun hanya sekedar belajar saja. Nanti alat musik yang saya miliki ini akan saya katalogkan. Mulai dari nama, cara memainkan, pemberian dari siapa, dibuat tahun berapa. Agar tak hanya melihat, tetapi juga membaca serta mencoba bagaimana cara memainkan. Meskipun ini ada yang senarnya putus, akan diperbaiki,” ungkapnya tegas.

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved