Blitar

Malu Nggak Punya Ponsel Android, Siswa di Blitar Nekat Minum Racun Serangga, Ending Kisah Memilukan

"Saya nggak menyangka, wong anaknya itu nggak neko-neko dan pendiam, namun kok senekat itu. Dia sejak umur 12 tahun, ditinggal bapaknya,"

Penulis: Imam Taufiq | Editor: eko darmoko
newlaunches.com
Ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Hanya karena minta ponsel Android dan belum dibelikan oleh ibunya, Ari NS (16), pelajar SMKN di Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar ini nekat menenggak racun. Akibatnya, selang tujuh jam kemudian, nyawa korban tak berhasil diselamatkan.

Tepat Senin (5/9/2016) sekitar pukul 01.00 WIB, pelajar kelas 1 itu meninggal dunia di rumah sakit (RS) swasta di Kota Blitar. "Saat saya ketahui, dia sudah muntah-muntah dan kejang-kejang di atas tempat tidur kamarnya. Itu sekitar pukul 18.30 WIB. Akhirnya, saya bawa ke RS dan meninggal dunia di RS itu," tutur Robiatun (43), ibu korban ditemui di rumah duka, Desa Kebonagung, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Senin (5/9/2016) siang.

Menurut Robiatun, diduga aksi nekat anaknya itu karena dipicu minta ponsel Android. Olehnya, itu masih janjikan karena belum punya uang. Namun, rupanya ia tak sabar dan berbuat nekat seperti itu.

"Dia itu minta HP Android sejak masuk SMK sebulan lalu. Namun, saya kan nggak punya uang, sehingga saya sanggupi, agar bersabar dulu, sampai menunggu hasil panen cabe akhir bulan ini. Ternyata, dia kok senekat itu," ujar janda dua anak dengan satu cucu itu.

Tanda-tanda kenekatan korban itu bisa dirasakan ibunya selama seminggu ini. Jika biasanya, ia rajin membantu ibunya ke sawah, bersih-bersih rumah atau mencuci piring namun dalam seminggu ini ia malas-malasan. Malah, yang diomongkan pada ibunya itu, ia selalu menuntut minta dibelikan ponsel.

"Tiap saya suruh apa saja, ia selalu bilang, belikan HP dulu. Katanya, saya (korban) malu mak sama teman-teman karena nggak punya HP Android," tutur ibunya.

Bahkan, Minggu (4/9/2016) kemarin, menurut Robiatun, anaknya itu seharian tak keluar dan hanya berada di dalam kamarnya. Hanya sekadar makan saja, ia menunggu ibunya tak ada. Puncaknya, Minggu petang kemarin, ia yang biasanya rajin salat ke masjid, namun tetap di dalam kamarnya. Bahkan, saat itu pintu kamarnya, malah dikunci dari dalam.

"Saya panggil-panggil, untuk saya ajak ke masjid, tak menjawab. Akhirnya, saya tinggal," tuturnya.

Satu jam kemudian, di saat ibunya pulang dari masjid, terkejut karena anaknya sudah berteriak-teriak, dengan memanggil-manggil ibunya. Bahkan, terdengar, ia muntah berkali-kali. Karena pintu kamarnya sudah terbuka, ibunya langsung masuk dan melihat korban sudah kejang-kejang di atas tempat tidurnya.

Karena heran dengan kondisi anaknya yang mendadak seperti itu, Robiatun menanyainya. Ternyata, korban mengaku habis minum racun hama serangga, yang ada di samping televisi, di ruang tengah rumahnya. Itu tak lain racun serangga yang baru dibeli kakaknya, untuk dipakai membasmi ulat yang ada di tanaman cabe-nya.

"Saya kian panik karena anak saya mengaku seperti itu (habis minum racun). Akhirnya, saya bawa ke rumah sakit. Setelah dua jam dirawat di rumah sakit, ia sempat sadar dan saya senang," paparnya.

Saat sadar itu, Robiatun sempat menanyainya kembali, mengapa kok nekat minum racun. Oleh korban, dijawab, katanya, supaya segera dibelikan HP. Namun, tepat tengah malam, korban kembali muntah-muntah lagi, sambil mengerang kesakitan dan terus memegangi perutnya. Satu jam kemudian, ia meninggal dunia.

AKP Santoso, Kapolsek Wonodadi menuturkan, petugas sudah mengamankan botol racun serangga dari rumah korban. Botol berukuran 500 mm itu, isinya tinggal seperempat.

"Botol itu kami temukan di meja kamar korban dan isinya tinggal seperempat. Dugaan korban minum racun serangga itu cukup kuat. Di antaranya, bekas muntahannya yang ada di lantai kamarnya, baunya menyengat seperti bau racun. Namun, ibunya sudah menerimanya, sehingga mayat korban tak diotopsi dan siang ini tadi sudah dimakamkan," paparnya.

Zainal Ali Mustofa, Kades Kebongagung, yang juga paman korban, menuturkan, korban itu sebenarnya sekolahnya berprestasi. Cuma, kalau punya kemauan, cukup keras. "Saya nggak menyangka, wong anaknya itu nggak neko-neko dan pendiam, namun kok senekat itu. Dia sejak umur 12 tahun, ditinggal bapaknya," pungkasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved