Jumat, 10 April 2026

Malang Raya

Dolanan Tradisional Layak Masuk Muatan Lokal TK dan SD di Kota Malang

“Mainan tradisional banyak digantikan oleh gatget. Saya tidak bilang gadget sepenuhnya buruk, tapi permainan pada gadget bukan interaktif"

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
ILUSTRASI - Meriahnya Festival Kampung Tjelaket yang diadakan di Lapangan Tjelaket, RT 06 RW 05 Minggu (24/7). Warga ikut memeriahkan permainan tradisional seperti Nyai Putut, Bakiak, Dakon. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Dolanan tradisional anak layak untuk kembali masuk dalam muatan lokal (Mulok) Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Jenis permainan seperti petak umpet, gobak sodor, enggrang, dan dakon, akan berdampak positif pada peningkatan nilai kognitif, sosialisasi, kerja sama, dan saling menolong para siswa.

Hal itu disampaikan Indah Kurnianingsih, peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Sosialisasi Hasil Penelitian Penanaman Budaya Anti-Kekerasan Sejak Dini Melalui KEarifan Lokal Permainan Tradisional pada Pendidikan Anak, Rabu (7/9/2016) di Balai Kota Malang.

Hasil dari penelitian yang dilakukan di Sulawesi Tenggara, Yogyakarta, Bangkabelitung, dan Kalimantan Timur itu menunjukkan, dolanan tradisional sudah makin ditinggalkan oleh berbagai sekolahan. Padahal, menurut Indah, pengembangan permainan itu di level dasar dapat berpengaruh terhadap pandangan anak dalam bersosialisasi.

“Mainan tradisional banyak digantikan oleh gatget. Saya tidak bilang gadget sepenuhnya buruk, tapi permainan pada gadget bukan interaktif. Di permainan tradisional, seorang anak bisa belajar memahami satu sama lain,” kata dia.

Meski penelitian tidak dilakukan di Jawa Timur, ia meyakinkan bahwa Kota Malang memiliki karakteristik yang tak jauh berbeda dengan pendidikan di daerah tempat penelitian. Salah satu saran yang disodorkan kepada Pemerintah Kota Malang adalah penindaklanjutan hasil penelitian itu dengan aturan baku. Misalkan, Surat Ketarangan (SK) Wali Kota. Hal semacam sudah diterapkan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Dari hasil penelitian itu, masih banyak ditemukan kekerasan pada siswa SD di beberapa tempat. Kekerasan itu umumnya dilakukan oleh siswa ke rekan sebayanya. Salah satu media yang mempengaruhi pemikiran siswa sehingga berperilaku seperti itu adalah tontonan televisi.

Meski begitu, Indah belum dapat menyimpulkan secara pasti pengaruh dolanan tradisional terhadap tingkat kekerasan seorang anak. Alasannya, hasil penelitian hanya dilakukan sebatas pada jenjang TK dan SD saja. Untuk mengetahui dampak berkelanjutannya, ia menyebut harus ada penelitian lanjutan hingga ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Wakil Ketua Federasi Olaharaga Rekreasi Masyarat Indonesia (FORMI) Kota Malang Syamsul Huda mengatakan, akan mengusulkan hasil penelitian itu kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Permainan tradisional notabenenya masuk pada bidang pengembangan di FORMI. Namun, jika harus masuk ke sektor pendidikan formal, koordinasi dengan Dinas Pendidikan perlu dibuat.

Kendala masuknya dolanan tradisional pada sekolah formal, kata dia, adalah tidak tercantumnya materi itu pada kurikulum yang ada. Ia juga menyebut banyak tenaga pengajar di Kota Malang yang juga sudah tidak tahu dengan seluk-beluk dolanan tradisional. “Kami akan mengusahakan agar bisa masuk,” ucapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved