Kamis, 23 April 2026

Malang Raya

Digitalisasi Frekuensi TV Macet dan Ancam Komunikasi Masa Depan

"Pada 2020 diperkirakan mengakses internet akan lambat di kota-kota besar. Sekarang saja sudah lemot muter-muter,"

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Para pembicara di seminar nasional Digitalisasi, Komodifikasi dan Politisasi Informasi Media di Hotel Savana Kota Malang, Kamis (15/9/2016). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Digitalisasi frekuensi TV macet. Akibatnya mengancam komunikasi masa depan yang berbasis smartphone dan internet.

Sebab pengguna wireless broadband makin meningkat sejak tahun 2000. Sementara batas akhir digitalisasi sudah terlewati setahun yang lalu.

"Pada 2020 diperkirakan mengakses internet akan lambat di kota-kota besar. Sekarang saja sudah lemot muter-muter tandanya, karena kebutuhan internet melimpah," jelas Henry Subiakto, staf ahli Menkoinfo RI bidang komunikasi dan media massa di Hotel Savana, Kamis (15/9/2016).

Kalau itu terjadi, lanjutnya, maka pengguna HP akan protes. Sehingga diperlukan jalan tol baru karena jalan tol lama sudah penuh frekuensi TV analog.

"Kecuali smartphone-nya dicolokkan ke serat fiber sehingga internet lancar," kata Henry.

Hal itu disampaikan dalam seminar nasional "Digitalisasi, Komodifikasi dan Politisasi Informasi Media".

Menurut pria yang sudah 10 tahun menjadi staf ahli ini, macetnya digitalisasi frekuensi TV karena pemilik media tidak mau.

Alasannya, karena akan makin banyak stasiun TV. Sehingga mereka tidak bisa menjadi konglomerat media/untuk perlindungan usaha.

"Meski mereka sudah melakukan digitalisasi di stasiunnya. Namun media TV masih menggunakan frekuensi analog," kata dosen Unair Surabaya ini.

Padahal dengan analog, selain boros frekuensi, mahal juga boros listrik. Ia menyebutnya, untuk satu stasiun TV butuh frekuensi 8 Mhz. Padahal jika itu dipakai oleh provider telepon seluler, maka sudah bisa melayani jutaan orang.

Selain itu, dengan 8 Mhz, maka bisa dipakai frekuensi untuk 9 sampai 12 stasiun TV. Karena itu, untuk memberikan jalan tol bagi komunikasi masa depan adalah semua analog itu jadi digital.

Ia mengharapkan pada 2018, semua frekuensi TV sudah pindah ke digital semua.

"Jika frekuensinya bisa ngirit, maka frekuensi bisa dipakai untuk internet, smartphpne, media online, media sosial, radio dan TV streaming," jelasnya.

Menurut dia, dunia tidak menduga ada ledakan dari penggunaan smartphone. Dengan banyak aplikasi dan penggunannya banyak, maka frekuensinya yang dipakai juga meningkat.

Misalkan penggunaan aplikasinya, mengunduh, mengunggah dan sebaginya. Apalagi sekarang semua sudah memakai smartphone lengkap dengan paket datanya.

"Update status di FB jadi banyak. Itu juga memakan frekuensi," kata dia.

Henry mengakui pemerintah sulit meminta kepada pemilik TV mengubah frekuensi analog ke digital. Apalagi dinilai tidak ada dasar hukumnya.

"Pemerintah kalah terus di Mahkamah Konstitusi (MK). Sehingga pelaksanaannya mundur terus," katanya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved