Breaking News:

Malang Raya

Mbois Ker, Pemilihan Ketua OSIS SMAN 9 Kota Malang Pakai Quick Count

Tri Mulatsih, guru Bahasa Inggris juga merasakan nyamannya pemanfaatan teknologi informasi ini. "Cepet, lebih simple dan lancar,"

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Abdul Tedy, kepala SMAN 9 Kota Malang memberikan hak suaranya lewat smartphone yang memanfaatkan google form dalam pemilihan ketua OSIS di sekolah itu, Kamis (22/9/2016). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Penghitungan cepat (quick count) diterapkan dalam pemilihan ketua OSIS dan MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) yang baru di SMAN 9 Kota Malang periode 2016-2017, Kamis (22/9/2016).

Tiga calon ketua OSIS yaitu M Iqbal Fitrah Anugerah, Fahreza Nurwahyu Habibillah dan Anisa Nurwati pun bisa mengetahui hasilnya secara cepat dan efisien. Pergerakan suara mereka bisa dipantau lewat layar TV yang dipasang di dekat ruang guru.

Mereka duduk bertiga di kursi dengan santai sambil melihat hasilnya. "Meski rasanya deg-degan," tutur mereka kepada SURYAMALANG.COM. Mereka jadi tahu proses pergerakan suara tanpa harus menunggu perhitungan manual seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini lebih praktis. Tidak mempengaruhi KBM (Kegiatan Belajar Mengajar)," jelas Anisa. Sebab panitia berkeliling masuk kelas dan pemilik suara cukup memberikan hak suaranya lewat gadget yang dibawa panitia.

"Tim kami ke kelas-kelas. Setiap kelas butuh 10 menit untuk mengumpulkan suara," jelas Rizal Husein, Youth Community Telkomsel Branch Malang yang memfasilitasi sekolah ini.

Caranya seorang anggota tim duduk di meja guru. Dan satu persatu siswa maju sesuai dengan nomer urut absen. Dengan cara seperti itu, pemungutan suara berjalan cepat dan lancar.

Menurut dia, sekolah tidak mengeluarkan uang apapun untuk model seperti ini. Namun pihaknya diperbolehkan membuka booth."Ini sebenarnya memanfaatkan yang sudah ada. Seperti google form dan doc," terang Rizal.

Sehingga pemilihan bisa digelar online dan cepat diketahui hasilnya. Abdul Tedy, Kepala SMAN 9 Kota Malang menambahkan cara seperti ini irit biaya dan waktu. "Biasanya kan perlu kertas, mengganggu KBM," katanya.

Hasil perolehan suaranya biasanya juga diketahui baru sore hari karena menggunakan penghitungan manual. "Dengan cara ini, semua bisa memberikan hak suaranya. Tidak ada yang golput," jawab Tedy. Jumlah siswa, guru dan karyawan ada 1050 suara.

Tri Mulatsih, guru Bahasa Inggris juga merasakan nyamannya pemanfaatan teknologi informasi ini. "Cepet, lebih simple dan lancar," kata Tri. Sebab sebelumnya, saat pemilihan OSIS bisa antre saat memberikan suara.

Kini, guru saat istirahat mengajar didatangi tim. Mereka kemudian memberikan suaranya di layar gadget itu.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved