Malang Raya
Pak Menteri Singgah ke Kampung Warna-Warni Kota Malang, Ini Komentarnya . . .
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengunjungi Kampung Warna-Warni (KWW) di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengunjungi Kampung Warna-Warni (KWW) di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jumat (23/6/2016).
Kunjungan mendadak tersebut untuk melihat kondisi kampung itu dari sisi kelayakan bangunan rumah.
Basuki mengatakan, secara umum bangunan yang berada di bantaran sungai tidak diizinkan. Sementara bangunan di KWW masih bisa di toleransi karena masih berada di atas daerah banjir.
"Menurut saya masih oke. Mereka sudah lama juga tinggal di sini," katanya, Jumat.
Ia melihat kondisi di KWW tidak membutuhkan pembangunan tanggul baru. Pasalnya, bangunan rumah paling rendah di sana masih berjarak 100 meter tingginya dari batas atas aliran air saat banjir.
Dari peninjauan itu pula, ia menyaksikan beberapa bangunan yang masih terindikasi berada terlalu dekat dengan ketinggian batas atas sungai adalah bangunan Mandi Cuci Kaktus (MCK) umum.
Kedatangan Basuki ke KWW memang tidak disengaja. Agenda dia datang ke Malang sejatinya untuk menghadiri Kongres Sungai II Selorejo, Kabupaten Malang. Saat perjalanan, ia menaiki pesawat bersama dengan rombongan Pemkot Malang setelah menghadiri sebuah acara di Jakarta.
Setelah mendapat cerita tentang KWW, Menteri pun tertarik untuk mampir. "(KWW) ini sudah ada di berita," ungkapnya.
Kedatangan itu juga untuk mencari contoh pembangunan daerah bantaran sungai di Indonesia. Untuk menjadikan KWW sebagai model, pihaknya masih memerlukan pengkajian
"Saya harus diskusi dulu dengan UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang mengawali," katanya.
Pembenahan kawasan bantaran sungai bisa dengan berbagai cara. Salah satunya dengan merelokasi bangunan-bangunannya jika memang berada di bawah peil banjir. Beberapa kawasan bantaran sungai yang juga telah ditata mirip KWW, sebut dia, berada di daerah Kalicode, Yogyakarta.
Basuki mengatakan, pembenahan di sana mirip dengan pembenahan di KWW, yakni dengan partisipasi masyarakat.
Pembangunan kawasan di bantaran sungai harus berdasar rekomendasi Jasa Tirta. Pihaknya juga meminta pemkot berkomunikasi dengan Jasa Tirta sebelum membangun jembatan penghubung antara Kelurahan Kesatrian dan Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing itu.
"Tadi ada usulan jembatan di tempatkan di sana-sini. Kalau menurut saya yang penting masalah ornamental saja," ujarnya.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Harianto, yang juga ikut dalam kunjungan itu, mengomentari tentang rencana pembangunan jembatan yang bakal menghubungkan KWW dan Kampung Tridi. Ia mengatakan, tinggi jembatan gantung itu harus 2-2,5 meter di atas garis tertinggi aliran sungai saat banjir. Saat kondisi banjir, air yang dibawa di sungai bisa mencapai 600 meter kibik.
“Kapasitasn harus id atas itu. Kalau toh ada jembatan, tidak boleh lebih rendah tingginya. Itu sebabnya jembatan kereta api berada di tempat yang tinggi untuk mengantisipasi,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/basuki-hadimuljono-menteri-pu-ri-bersama-m-anton-kampung-warna-warni_20160923_184758.jpg)