Breaking News:

Malang Raya

Renda Rabbany, Mahasiswi UM Pelajari Bahasa Mandarin Langsung di China

"Saya dipilihkan jurusan ini sama ibu. Ya gak papa sih karena akhirnya saya senang," jelas gadis kelahiran Lamongan

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Dzun Nun Septin Renda Rabbany, mahasiswi Universitas Negeri Malang 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Dzun Nun Septin Renda Rabbany (22), mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) prodi Pendidikan Bahasa Mandarin mengaku belajar bahasa asing itu dari nol. Saat SMA, bahasa itu juga tak pernah dipelajarinya.

"Saya dipilihkan jurusan ini sama ibu. Ya gak papa sih karena akhirnya saya senang," jelas gadis kelahiran Lamongan, 14 September 1994 kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (2/10/2016). Kini ia sedang menyelesaikan skripsinya.

Ia bercita-cita ingin menjadi dosen Bahasa Mandarin. "Sejak lama saya ingin jadi dosen," kata gadis berhijab ini ketika bertemu di Sasana Budaya UM disela kegiatan Pusat Bahasa Mandarin bertajuk Confucius Day.

Di acara itu, Renda tampil menyanyi sebuah lagu tradisional Li Hua Song yang merupakan bagian di Opera Beijing. Menurut dia, lagu itu justru dipelajari saat dia berada di Tiongkok atau China pada 2015.

"Waktu itu, saya di Tiongkok mengikuti program beasiswa pada 2015. Selama setahun, ia kuliah di Guangxi Normal University," ceritanya. Di sana, ia tinggal di asrama kampus.

Menurutnya, belajar di sana saat semester empat dan lima, membuatnya dapat banyak pengalaman dan pengetahuan. "Terutama komunikasi dengan orang Tiongkok," kata dia.

Hasil belajar selama setahun di perguruan tinggi itu kemudian ada transfer kredit ke UM. Selain menyukai bidang bahasa, Renda ternyata suka menyanyi.

Ia pernah mengikuti bidang seriosa di Pekan Seni Mahasiswa Regional pada tahun ini. "Belum menang sih, hehehe," jawabnya. Namun untuk tingkat UM, ia meraih peringkat dua. Selain itu, ia pun ikut kelompok paduan suara UM, Swara Satata Cakti sejak 2012.

Alasan memilih menjadi dosen, menurut dia, karena ingin mengajarkan kemampuannya ke orang lain. Baik bahasa maupun budayanya.

"Meski awal-awalnya berat belajar Bahasa Mandarin. Belajar bahasa itu harus dipraktekkan agar cepat bisa," katanya memberi kiat. Misalkan berani bicara dengan teman dan dosen.

Menurut Renda, ia juga pernah ikut lomba hanyu qiao atau Chinesse Bridge. Yaitu sebuah lomba kecakapan Bahasa Mandarin namun juga harus memiliki kemampuan kesenian dan budaya.

Ujian yang harus dilakoni saat itu seperti ujian pidato, pengetahuan mengenai Tiongkok, menulis dan penampilan. Yang menyelenggarakan adalah pemerintah Tiongkok.

Lomba itu berjenjang dimulai dari tingkat regional. Ia pernah mengikuti pada 2014 dan 2016. "Saya dapat pengetahuan terbaik," kata Renda yang mengoleksi banyak kamus Bahasa Mandarin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved