Travelling

Tarpin Pendaki Asal Malang, Daki Rinjani dan Semeru dengan Jalan Mundur, Dia Tantang Pendaki Nepal

Saya ingin menunjukkan bahwa berjalan mundur tidak hanya sekedar sebagai gaya-gaya saja. Tetapi juga ada manfaat bagi kesehatan

Tarpin Pendaki Asal Malang, Daki Rinjani dan Semeru dengan Jalan Mundur, Dia Tantang Pendaki Nepal
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Tarpin Iswahyudi, anggota Komunitas Gimbal Alas Malang berjalan mundur menembus hujan deras menuju lokasi finish dalam Pemecahan Rekor Dunia Jalan Mundur Malang-Gunung Bromo-Gunung Semeru PP saat melintas di Jalan Majapahit, Kota Malang, Selasa (1/11/2016). Tarpin Iswahyudi memulai jalan mundur dari kampung celaket Kota Malang pada 25 Oktober 2016 dan finish di Pendapa kabupaten Malang pada 1 November 2016. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Setalah sukses menaklukkan dua gunung sekaligus dengan berjalan mundur, pendaki asal Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Tarpin Iswahyudi (52) kini menantang warga Nepal. Warga Nepal yang ditantang oleh Tarpin ini merupakan seorang yang pernah melakukan aksi berjalan mundur juga.

Tarpin tiba di garis finish di Pendopo Kabupaten Malang, Selasa (1/11/2016) sekitar pukul 13.30 WIB. Kedatanganya ini disambut gembira dan haru oleh kerabat dan keluarganya. Dengan berjalan mundur, ia berhasil menaklukkan dua gunung, yakni puncak Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

“Saya ingin menunjukkan bahwa berjalan mundur tidak hanya sekedar sebagai gaya-gaya saja. Tetapi juga ada manfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu, saya ingin menantang mendaki bersama warga Nepal mendaki gunung yang ada di Indonesia,” tutur Tarpin.

Sebelum sampai di pendopo, Tarpin berjalan menuju pendopo dengan diiringi oleh beberapa tim. Ada tim SAR, serta tim Komunitas Gimbal Alas. Rute yang ia lalui juga sama dengan ketika ia berangkat menuju dua gunung itu. Ia ditemani oleh beberapa temannya dengan bendera merah putih melingkar dan melindunginya ketika berjalan mundur.

Selama di perjalanan, Tarpin menceritakan dirinya sempat terjatuh tiga kali ketika hendak menuju Puncak Semeru, Mahameru. Bahkan saat menuju puncak, ia harus rela basah-basahan karena hujan. Seperti yang diketahui, jarak yang ditempuh Tarpin sejauh 218 kilometer.

“Di atas hanya seperempat jam saja. Sekitar jam 12 siang. Sempat hujan dan jatuh saat menuju puncak, karena jalannya yang terjal,” imbuh ayah dua orang anak ini.

Sebelumnya, Tarpin sudah pernah mendaki Gunung Semeru dan Gunung Rinjani dengan berjalan mundur juga. Yakni tahun 2013 ia mendaki Gunung Semeru, lalu tahun 2014 ia mendaki Gunung Rinjani. Dan tahun 2016 ini ia mendaki dua gunung sekaligus, Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Selain itu, dari aksinya ini, Tarpin juga mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Rekor Dunia Indonesia (Leprid). Paulus Pangka SH, Direktur Leprid mengatakan pemberian penghargaan kepada Tarpin ini bukan pemecah rekor, tetapi menciptakan rekor baru. Menurutnya, belum ada jenis rekor seperti yang dilakukan oleh Tarpin, yakni berjalan mundur mendaki gunung.

“Kalau berjalan mundur di jalan yang datar, sudah banyak yang melakukan. Tetapi ini dengan mendaki gunung. Sesuatu hal yang berbeda. Dari Leprid kami berikan kepada Tarpin ada piala, medali, dan juga buku,” tutur dia. Ia menyebutkan, selama bulan Oktober kemarin, Leprid juga telah memberikan sebanyak 30 rekor baru.

Sementara itu, Bupati Malang, Rendra Kresna, mengungkapkan bahwa dirinya bangga dengan aksi yang dilakukan oleh Tarpin. “Ini menjadi inspirasi kita semua. Bahwa yang dilakukan saudara Tarpin ini meskipun aksinya berjalan mundur, tetapi bukan kemunduran. Melainkan kemajuan dari hal yang baru,” ungkap Rendra.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved