Malang Raya

Empu Fanani, Satu-Satunya Pengrajin Keris yang Tersisa di Singosari Kabupaten Malang

Berawal dari jual beli sejak tahun 1992, Fanani menjadi ketagihan belajar tentang jagat keris. Mulai dari pembuatan, ritual, hingga sejarah keris

Empu Fanani, Satu-Satunya Pengrajin Keris yang Tersisa di Singosari Kabupaten Malang
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Empu Fanani menunjukkan Keris Luk 11 Dapur Sabuk Inten, Pamor Tri Warna. Keris ini baru saja ia selesaikan dan ia sakralkan pemberian kepada pemesan pada 26 Oktober kemarin. 

SURYAMALANG.COM, SINGOSARIEmpu Fanani adalah satu-satunya pengrajin keris yang tersisa di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Pemilik nama lengkap Kanjeng Raden Tumenggung Fanani Arum Fanani Notopuro ini menjadi empu sejak 1992 silam.

Berawal dari jual beli sejak tahun 1992, Fanani menjadi ketagihan belajar tentang jagat keris. Mulai dari pembuatan, ritual, hingga sejarah tentang keris.

Saat ditemui di rumahnya, di Jl Tumapel, Kecamatan Singosari, Fanani menunjukkan keris yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Satu di antaranya ialah keris jenis Betok.

Menurut Fanani, salah satu cara melestarikan keris ialah dengan jual beli. Saat pertama kali bisa membuat keris tahun 1996, ia pun melihat perdagangan keris sangat menarik dan mudah laku.

Lalu saat itu ia meneruskan menjadi pembuat keris sekaligus pemilik dan kolektor keris dari berbagai jenis.

"Kadang saya juga buat duplikat keris yang sudah ada. Sesuai permintaan dari yang pesan," kata dia, Rabu (2/11/2016).

Ketika dia membuatkan keris, ada beberapa ritual yang ia lakukan. Seperti ia harus tahu untuk apa pemesan memesan keris.

Bahkan, tak jarang dia juga mencocokkan dengan usia, pekerjaan dari si pemesan. Karena itu akan membantunya untuk menentukan jenis keris apa yang akan ia buat.

Diakui Fanani, di Singosari ini memang tinggal dirinya yang masih bertahan jadi empu. Sehari-hari Fanani hanya disibukkan dengan membuat keris saja. Belum lagi saat ia harus melakukan ritual-ritual penyerahan keris kepada pemesan.

"Ritual ini membuktikan atau menegaskan bahwa keris yang saya buat sudah selesai. Dan tidak ada tanggungan beban untuk saya," tutur dia.

Selama pembuatan keris, pria kelahiran 3 Februari 1965 ini juga melakukan hal-hal yang wajib ia lakukan. Yakni Ponco Broto yang terdiri dari Darmo Broto, Dono Broto, Tarak Broto, Lelono Broto, dan Topo Broto.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved