Malang Raya

DanceSport Dianggap Olahraga Mahal, Ternyata Ini Penyebabnya

“Bayaran satu juri bisa sampai 160 US Dolar. Makanya kompetensi DanceSport jarang digelar. Pelatih olahraga ini juga masih jarang.”

SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Penampilan pasangan DanceSport Tania-Albert Yuwono di Universitas Ma Chung, Minggu (6/11/2016). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - DanceSport masih dianggap sebagai olahraga mahal, termasuk di Kota Malang. Kegiatan yang ditujukan untuk DanceSport pun masih belum banyak.

Ketua Umum Ikatan Olahraga DanceSport Indonesia (IODI) Jawa Timur, Heru Sutantio mengatakan olahraga ini dianggap mahal karena faktor juri. Jumlah juri olahraga ini masih jarang.

“Bayaran satu juri bisa sampai 160 US Dolar. Makanya kompetensi DanceSport jarang digelar. Pelatih olahraga ini juga masih jarang,” kata Heru, Minggu (6/11/2016).

IODI terbentuk sejak 2002. Tapi atlet olahraga ini bisa membawa pulang 4 emas dalam PON XIX di Jabar. Padahal cabor DanceSport sempat ditiadakan dalam PON.

Peserta yang berhasil mendapat medali emas dalam PON XIX adalah Tania Christabella Tungka. Tania menyebut dunia DanceSport sudah mendarah daging dalam didirinya.

“Kami masih sering latihan ini. Tidak putus asa agar bisa memberi penampilan terbaik,” tutur dia. 

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Zainuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved