Sabtu, 11 April 2026

Gempa Malang

Masyarakat di Daerah Rawan Gempa Harus Paham Jenis Bangunan

Bisa jadi satu rumah memiliki puluhan angker. Sebab, jarak antar angker sekitar 30 centimeter (cm) dengan diameter 12 cm.

Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Pakar bangunan ITN, Ir Andrianus Agus Santosa MT 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Banyak masyarakat di daerah rawan gempa belum paham bangunan. Masyarakat di kawasan rawan gempa tidak boleh asal mendirikan bangunan.

Pakar Bangunan dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Andrianus Agus Santosa MT mengatakan masyarakat harus memperhatikan beberapa hal. Seperti pemasangan angker (pijakan besi).

Bisa jadi satu rumah memiliki puluhan angker. Sebab, jarak antar angker sekitar 30 centimeter (cm) dengan diameter 12 cm.

“Pemasangan angker sangat penting, karena menyatukan antar pondasi dan balok rumah dengan besi,” kata Agus, Kamis (17/11/2016).

Angker ini yang membuat bangunan tidak roboh saat gempa terjadi. Angker tidak hanya dipasang di pondasi, tetapi juga di atap rumah.

Banyak masayarakat di kawasan rawan gempa jarang memasang angker. Selain tidak ada biaya, masyarakat tidak mengerti fungsi utama angker.

“Saya lihat rumah yang rusak itu tidak ada yang memasang angker. Bisa dilihat dari genteng yang rusak, bahkan terputus dari titik satu ke titik lainnya,” tambahnya.

Syarat bangunan tahan gempa lainnya adalah memiliki bentuk sederhana. Bila rumah berbentuk T, harus ada pemisah tidak merubuhkan bangunan lain saat terjadi gempa.

Bila ada rumah yang masih bisa diperbaiki akibat gempa kemarin, dia menyarankan diperbaiki dengan memasang angker. Warga jangan hanya membangun ulang dengan konstruksi yang salah.

“Pemerinta juga harus men-survei bangunan itu,” terangnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved