Malang Raya

Ludruk DPRD Kabupaten Malang: “Di Dolly Ada Gempa 100 Kali Setiap Harinya”

Pertunjukan Rabu (23/11/2016) sore di halaman Gedung DPRD Kabupaten Malang ini membawakan lakon, Sarip Tambak Oso.

Ludruk DPRD Kabupaten Malang: “Di Dolly Ada Gempa 100 Kali Setiap Harinya”
SURYAMALANG.COM/David Yohanes
Pentas Sarip Tambak Oso di DPRD Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, KEPANJEN - Musik gamelan mengalun, kemudian tokoh Sarip Tambak Oso muncul di atas panggung. Di saat semua penonton terpaku pada sosoknya yang gagah, tiba-tiba seoarang anak berteriak di antara penonton, “Ayah!”.

Penonton pun dibuat tertawa oleh teriakan spontan. Adegan tersebut hanya sebagian kelucuan ketika anggota DPRD Kabupaten Malang bermain Ludruk.

Pertunjukan Rabu (23/11/2016) sore di halaman Gedung DPRD Kabupaten Malang ini membawakan lakon, Sarip Tambak Oso. Tokoh legendaris ini diperankan oleh Ketua Fraksi Gerindra, Rahmat Kartala.

Sedangkan Ketua  DPRD, Hari Sasongko memerankan mantri Belanda. Bukannya serius, pertunjukan yang menggandeng  Sanggar Seni Dharmawijaya justru mengundang kelucuan.

“Kulo badhe protes, ten nopo bangunan ingkang paduka paringaken namung kiat sekawan bulan? (Saya mau protes, kenapa bangunan yang diberikan tuan Mantri hanya kuat empat bulan?),” protes Lurah Dolly, Darbowo yang diperankan oleh Sumarno.

Sebagai pejabat, Mantri Belanda tersebut menjawab dengan galak.

“Kowe ngerti laopo bangunan nok Dolly gampang rusak? Soale nok Dolly ono gempa ping 100 ben dino (Kamu tahu kenapa bangunan di Dolly mudah rusak? Karena di Dolly terjadi gempa 100 kali setiap hari),” jawab Mantri disambut tawa penonton.

Pagelaran ini merupakan bagian dari agenda peringatan Ulang Tahun Kabupaten Malang. Ludruk sengaja dipilih, karena dianggap lebih dekat dengan rakyat Malang.

Seni tradisi ini menggunakan bahasa seperti kehidupan sehari-hari. Selain itu, ceritanya juga penuh muatan pesan positif.  Seperti perjuangan melawan ketidak-adilan.

“Ini bentuk kepedulian kami pada seni tradisional. Kami turun langsung memainkan di panggung,” tambahnya.

Untuk pentas ini, hanya dibutuhkan tiga kali latihan. Satu kali latihan reading (membaca naskah) dan dua kali memeragakan naskah. Dalam pentas ini, ada seorang bule yang menjadi pusat perhatian.

Penulis: David Yohanes
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved