Senin, 27 April 2026

Blitar

Ngaku Anggota Keluarga Bung Karno, Punya Akses Harta Karun di Swiss, Ternyata . . . Eng Ing Eng

ia mengaku keluarga besar besar Bung Karno, yang mendapat wasiat terhadap harta karun tersebut

Penulis: Imam Taufiq | Editor: eko darmoko
IST
Bung Karno 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Mengaku bisa menyedot harta karun milik Bung Karno, yang katanya disimpan di Bank Swiss, Ratna Dewi (54), warga Lingkungan Sirna Resmi, Kecamatan Gunung Guruh, Kabupaten Sukabumi, Bogor ini berhasil memperdayai banyak orang. Modusnya, ia mengaku keluarga besar besar Bung Karno, yang mendapat wasiat terhadap harta karun tersebut.

Caranya, korban-korbannya diajak ritual, dengan membayar mahar. Mahar itu, kata dia, dibuat memancing, untuk menyedot harta karun tersebut. Namun, kedok jahatnya itu terkuak setelah dilaporkan tiga korbannya, yakni Yl (42), warga Kelurahan/Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar, Im (52), dan As (42), warga Desa Pasir Harjo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, ke Polres Blitar. Ketiganya masing-masing mengalami kerugian berbeda. Seperti Yl, mengaku mengalami kerugian Rp 400 juta, Im Rp 80 juta, As mengalami kerugian Rp 27 juta.

"Kemungkinan korbannya banyak, namun yang berani melapor baru tiga korban," kata AKBP Slamet Waluya, Kapolres Blitar, Jumat (23/12/2016).

Menurutnya, dugaan penipuan itu terjadi pada 15 Mei 2015 lalu. Itu berawal dari perkenalan As dengan pelaku, yang dikenalkan oleh Sl. Sl adalah teman kerja As, yakni sama-sama sebagai sales baju di Kota Sukoharjo. Entah apa yang terjadi saat itu, As tergiur dengan pelaku. Sebab, kata Sl, pelaku itu bisa mendatangkan harta karun milik presiden pertama RI.  Salah satu syaratnya, As cukup jadi anggota padepokan milik pelaku.

Dalam perkenalan itu, As disarankan mencari teman, yang sama-sama mau diajak ritual. Akhirnya, As mengajak dua temannya, yakni Im dan Yl.

"Singkat cerita, mereka bertiga melakukan ritual di musala, yang ada di sebelah rumah As. Namun, setiap sebelum ritual, pelaku minta agar ketiganya mentransfer uang ke rekeningnya, hingga terkumpul sebanyak itu. Untuk pertama kali, ketiganya masing-masing mentransfer Rp 4 juta," paparnya.

Saat ritual, ketiga korban itu hanya duduk bersila sambil mengamini doa yang diucapkan pelaku. Itu dilakukan seminggu sekali dan tiap hari minggu. Waktunya, setiap habis salat Ashar sampai Magrib. Di depan mereka, disiapkan, empat gelas teh dan kopi, yang masing-masing ada yang pahit dan manis. Termasuk, ada bunga setaman.

"Kata pelaku, semakin banyak uang yang ditransfer ke rekening pelaku, itu semakin akan mendapatkan banyak harta karun kelak," ungkapnya.

Agar korban kian yakin, pelaku selalu membawa uang dolar lama atau nilainya Rp 100 ribu dolar per lembar. Selain itu, pelaku juga menunjukkan semacam surat wasiat dari Bung Karno. Surat itu dilengkapi dua foto masa kecil pelaku, dan di bawahnya, ada dua foto Bung Karno.

"Dugaan kami, itu buatan pelaku sendiri, mulai surat wasiat, dan uang dollar palsu, yang kini sudah kami sita," ungkapnya.

Ternyata, ritual itu hanya akal-akalan pelaku, buat meyakinkan korban-korbannya. Buktinya, setiap kali tak berhasil menyedot uang dari Bank Swiss setiap usai ritual, pelaku selalu punya alasan. Misalnya, pelaku menuduh korbannya belum khusuk saat menjalankan ritual sehingga wajar belum berhasil.

"Jika ritual itu berhasil, kata pelaku, harta karun itu langsung masuk ke masing-masing rekening korban, dengan nilai dolar AS. Jumlahnya sesuai dengan besar kecilnya maharnya. Kian besar membayar mahar besar, katanya semakin medapat banyak harta karun," ujarnya.

Karena tak kunjung cair, meski sudah berkali-kali ritual dan selalu membayar mahar, ketiga korban baru merasa tertipu. Akhirnya, korban melapor dan  pelaku ditangkap di rumahnya, Rabu (21/12/2016) siang lalu. Begitu ditangkap, kedok dia terkuak kalau semua itu hanya akal-akalan pelaku. Sebab, ia hanya seorang ibu rumah tangga.

"Soal detailnya, pelaku masih diperiksa. Untuk sementara, ia mengaku berawal dari iseng. Begitu orang percaya, pelaku kian ketagihan." paparmya. 

Selain tiga korban itu, lanjut dia, pelaku mengaku korbannya sekitar 32 orang. Itu menyebar di beberapa kota, hingga menghasilkan uang Rp 2 miliar. Sebagian uang hasil kejahatannya mulai 2015 itu sudah habis, di antara dipakai kehidupan sehari-hari, beli mobil, dll.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved