Blitar

Demi Anak Agar Tetap Bisa Sekolah dan Kuliah, Warga Kota Blitar Serbu Tempat Pegadaian

Dari sekian orang itu, menurutnya, sekitar 95 persen, mereka menggadaikan perhiasan. Selebihnya, adalah perabotan rumah, seperti televisi, hp

Demi Anak Agar Tetap Bisa Sekolah dan Kuliah, Warga Kota Blitar Serbu Tempat Pegadaian
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Suasana pegadaian yang antre sejak pagi 

SURYAMALANG.COM, BLITAR – Meski bukan musim pendaftaran sekolah, namun sehabis liburan panjang sekolah atau kuliah seperti sekarang ini, warga mengalami kondisi yang tak jauh beda. Itu karena anak-anak mereka mulai masuk sekolah atau kuliah sehingga membutuhkan biaya tambahan.

Utamanya, buat uang saku, seperti membayar kos dan biaya hidup selama sebulan ke depan. Bagi orang tua yang tak punya penghasilan tetap, mereka pasti pontang-panting, untuk mencari uang tersebut. Sebagai jalan pintasnya, mereka ramai-ramai 'menyekolahkan' barang berharga yang dipunya. Sebab, suatu saat jika sudah punya uang kembali, itu bisa ditebusnya.

Tak heran, hari pertama masuk kerja usai liburan akhir tahun, Selasa (3/1/2016) siang, kantor Pegadaian di Jalan Merdeka, Kota Blitar, ramai diserbu warga. Mereka antre menggadaikan barang yang dipunya, mulai perhiasan sampai perabotan rumah, seperti televisi, tape, dan telepon seluler.

Saking banyaknya warga yang datang, sampai harus mengantre berjam-jam. Sebab, yang datang kali ini tak seperti biasanya. Jika hari biasa, pihak pegadaian paling banyak bertransaksi sekitar Rp 200 juta per hari. Namun, pada hari pertama masuk kerja, pegadaian sudah bertransaksi sekitar Rp 600 juta lebih.

"Memang hari ini, jumlah orang yang datang cukup banyak. Jika hari biasa, rata-rata hanya sekitar 20 orang, namun hari ini membludak. Belum setengah hari saja, sudah terdapat antrean sekitar 70 orang," kata Anas Sulistyo, Kepala Pegadaian Cabang Blitar.

Dari sekian orang itu, menurutnya, sekitar 95 persen, mereka menggadaikan perhiasan. Selebihnya, adalah perabotan rumah, seperti televisi, telepon seluler.

"Jika dulu masih ada orang menggadaikan piring, namun sekarang sudah nggak ada. Rata-rata sekarang itu, mereka menggadaikan televisi," ungkapnya.

Karena banyaknya orang menggadaikan seperti itu, Anas memprediksi, dalam sebulan ke depan, pihaknya bisa bertransaksi sampai Rp 100 miliar per bulan.

"Memang, di Blitar itu, setiap musim pendaftaran sekolah atau habis liburan panjang seperti ini, pasti warga ramai datang ke pegadaian. Katanya, itu buat kebutuhan anaknya sekolah, terutama yang sekolah atau kuliah di luar kota," tuturnya.

Seperti Ny Maria (49), warga Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar ini. Ia mengaku terpaksa menggadaikan kalungnya seberat 19 gram, buat uang saku anaknya yang kuliah di Kota Malang. Sehabis liburan panjang kuliah, anaknya membutuhkan uang banyak, di antaranya buat bayar uang kos bulanan dan biaya makan selama sebulan ke depan. 

Karenaa itu, lanjutnya, uang Rp 2,5 juta yang hasil menggadaikan kalungnya itu akan dikasihkan anaknya Rp 2 juta dan sisanya buat kebutuhannya sendiri.

"Gimana lagi, nggak ada yang bisa saya jual, kecuali menggadaikan kalung. Kalau saya jual, ya ruginya banyak, mending saya gadaikan saja" tutur ibu dua anak yang mengaku suaminya bekerja sebagai sales perabotan rumah tangga ini.

Kondisi serupa dialami Ny Sujiati (50), warga Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar ini. Ibu tiga anak ini terpaksa menggadaikan televisi satu-satunya yang dipunya, demi bisa memberi uang saku anaknya, yang kuliah di Kota Malang. Televisi 32 Inc itu hanya di-ACC oleh pegadaian Rp 750 ribu.

"Untuk sementara, kami nggak bisa melihat televisi dulu, demi anak saya, agar bisa balik ke Malang. Katanya, habis liburan panjang ini, ia harus bayar kos. Itu pun, masih kurang sehingga saya masih akan mencari pinjaman uang lagi. Namun, yang penting, anak saya bisa balik dulu," ungkapnya.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved