Sabtu, 25 April 2026

Surabaya

Bikin Haru, Buruh Tani ini Merawat Suami dan Anaknya yang Terkena Kanker

Vonis kanker otak diterima suaminya pada tahun 2013, saat kedua anaknya yang kembar menginjak usia 5 tahun.

Penulis: sulvi sofiana | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.COM/Sulvi Sofiana
Nanik (32) bersama anaknya Muhammad Rizky (8) yang menderita kanker nasofaring saat melakukan evaluasi perawatan di RSUD Dr Soetomo,Jumat (3/2/2017). 

SURYAMALANG.com, SURABAYA - Peringatan hari kanker sedunia menjadi refleksi akan pengaruh kanker yang tak hanya berdampak pada satu individu, tetapi juga anggota keluarga lainnya.

Sebab diagnosa kanker tidak semuanya dapat diketahui dengan mudah. Pengobatan dan perawatannya juga membutuhkan waktu tak singkat.

Hal ini juga dirasakan Nanik (32), warga Jombang ini sejak 2013 sudah harus merawat anggota keluarganya yang menderita kanker.

Hal ini dimulai dari suaminya yang sejak 2008 dikira mengidap epilepsi karena sering sakit kepala dan kejang.

Vonis kanker otak diterima suaminya pada tahun 2013, saat kedua anaknya yang kembar menginjak usia 5 tahun.

“Tahu kalau sudah sakit pas nikah, itu dibantu dinas sosial buat periksa, saat itu sudah diprediksi bertahan setahun. Obat-obatan juga tidak banyak membantu sampai suami saya meninggal tahun 2014,” ungkapnya ketika ditemui di RSUD Dr Soetomo, Jumat (3/2/2017).

Tak berhenti setelah kehilangan suaminya, vonis kanker juga harus diterima salah satu anaknya, Muhammad Rizky (8) yang saat itu berusia 6 tahun.

Rizky kecil yang memang mudah lelah mulai sering sakit kepala dan mimisan. Hingga rumah sakit daerah mengatakan Rizky menderita kanker nasofaring.

“Sudah dibedah 2 kali di rumah sakit daerah, tapi bengkak di leher malah naik ke kepala. Dan usia operasi benjolan di leher juga masih ada,” ungkapnya.

Rizky akhirnya dirujuk ke rumah sakit tersier di Surabaya inj untuk dilakukan biopsi.

Usai biopsi dan ditemukan bahwa kanker Rizky tergolong ganas, perawatan kemoterapi dan radioterapi mulai dijadwalkan untuk Rizky.

Kondisi Rizky juga tidak stabil. Bahkan bocah yang tinggal terpisah dengan kembarannya yang di Magelang ini sering mengeluh kesakitan saat malam hari.

“Saya sering sampai jalan kemana-mana sampai nggak berasa. Karena bingung juga biaya hidup selama merawat Rizky, kalau drop juga harus transfusi sampai 2 minggu. Kalau begitu saya mana bisa kerja,”jelas wanita yang juga bekerja sebagai buruh tani ini.

Selama 2 tahun Rizky menjalani perawatan hingga tidak melanjutkan pendidikan sementara waktu.

Apalagi sejak dikemoterapi, rambut Rizky mulai rontok dan sering mual.

Kondisi Rizky yang sering lemas hingga drop juga membuatnya sering menjalani rawat inap.

“Anaknya aslinya ceria, cuma gampang capek. Ini saya menunggu hasil evaluasi. Apa perlu kemo lagi atau radioterapi. Karena masih ada benjolan 0,4 sentimeter di lehernya,”jelasnya.

Proses perawatan Rizky yang panjang juga karena fasilitas radioterapi yang mengantri dengan pasien lain.

Saat ditemui SURYA MALANG terlihat Rizky bergeliat manja pada ibunya.

Tubuhnya yang kurus dibalut jaket abu-abu menutupi kulitnya yang gosong akibat terapi yang dilakukan.

“Obat kemoterapi juga ada yang tidak dicover BPJS, harus beli sendiri sampai Rp 650 ribu. Makanya saya sekarang menjaga betul kondisi makanan dan gizi Rizky,” ungkapnya.

Makanan yang memicu sel kanker juga mulai dihindari Nanik, seperti sate dan jagung bakar yang menjadi favorit Rizky.

Apalagi dengan peringatan hari kanker sedunia, Nanik juga semakin rajin mengingatkan saudaranya untuk lebih giat menjaga asupan makanan, meskipun dalam keadaan kekurangan.

"Selain ada keturunan kanker, asupan makanan Rizky selama ini juga sembarangan. Jadi mungkin ini juga memicu kankernya muncul. Jadi saat ini saya memperbaiki gizi Rizky, paling banyak habis di susu,"ungkapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved