Malang Raya
Guru SMAN 7 Kota Malang Punya Cara Unik Agar Siswa Menyukai Pelajar Sejarah
"Saya ingin anak-anak tertarik ke materi sejarah dengan senang. Kalau hanya buku, tidak menarik," kata Anis kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (26/2/2017)
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Anis Khoiriyah, guru sejarah di SMAN 7 Kota Malang mengaplikasikan pop up book, semacam buku dengan gambar tiga dimensi untuk mata pelajaran sejarah ke siswa kelas 10.
Siswa diminta membuat dengan bahan sederhana dengan tema manusia purba.
"Saya ingin anak-anak tertarik ke materi sejarah dengan senang. Kalau hanya buku, tidak menarik," kata Anis kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (26/2/2017).
Dengan membuat pop up book, siswa lebih antusias dan tidak bosan ke materi.
"Sudah ada kelompok yang mengumpulkan," katanya.
Ide itu ternyata dari skripsinya di prodi sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM).
Judulnya 'Pop Up Book Majapahit Kehidupan Masyarakat Agraris dan Maritim' yang mendapat nilai A saat itu. Dalam buku itu, yang digambarkan seperti nyata karena ada tiga dimensinya.
Jadi, ketika membuka lembar buku, akan muncul gambar sesuai tema tulisan itu. Menurut dia, pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran tak hanya lewat komputer, namun bisa dalam bentuk pop up book.
Sehingga ketika membuka lembaran bukunya, jadi tertarik pada isi dan bisa berimajinasi seolah masuk dalam lorong waktu saat itu.
"Sebab sejarah kan tentang masa lalu. Kalau dibuat seperti ini, anak-anak juga bisa menyentuhnya," tutur Anis.
Untuk penugasan siswanya, ia membuat per kelompok. Bahannya bisa memanfaatkan kertas, karton.
Beda dengan buku skripsinya yang memakai art paper. "Siswa saya sarankan mengerjakan di sekolah dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan," katanya.
Menurut dia, tantangan guru sejarah adalah membuat siswa tidak bosan pada mapel karena bercerita pada zaman dahulu.
"Jika disertai ilustrasi-ilustrasi zaman dahulu lebih menarik," tuturnya.
Siswa juga bisa mengetahui perbandingan zaman dahulu dan kini. Menurut dia, mapel sejarah untuk peminatan IPS jam belajarnya cukup banyak selama seminggu. Yaitu sejarah Indonesia dan sejarah peminatan (sesuai peminatan), seperti sejarah dunia.
Sedang untuk peminatan IPA hanya ada sejarah Indonesia. Untuk membuat gambar pop up book, menurut dia, awalnya ke temannya yang di seni rupa.
Karena ia juga dikejar waktu menyelesaikan skripsi, untuk pemasangannya dilakukan sendiri. Positifnya, ia jadi bisa membuat sendiri. Karena itu, ia yakin siswanya juga bisa mengerjakan tugasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/anis-khoiriyah-guru-sejarah-sman-7-kota-malang_20170226_185238.jpg)