Traveling

Ini Buktinya Eco Wisata Boon Pring Bukan Sekedar Wisata Sumber Air

Wisata air bukan satu-satunya yang ditawarkan. Ada hutan bambu yang juga menawarkan keindahannya.

Ini Buktinya Eco Wisata Boon Pring Bukan Sekedar Wisata Sumber Air
SURYAMALANG.COM/David Yohanes
Perahu wisata di eco wisata Boon Pring, Desa Sanan Kerto, Kecamatan Turen ditawarkan kepada wisatawan untuk mengelilingi danau di tengah hutan bambu. 

SURYAMALANG.COM, TUREN - Sumber Andemen di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen kini dikenal dengan destinasi wisata Boon Pring. Lokasi wisata ini telah menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). 

Eco Wisata Boon Pring dikelola oleh lima desa di sekitarnya, yaitu Desa Sanankerto, Talangsuko, Talok, Sananrejo dan Tumpukrenteng.

Boon Pring menawarkan keindahan danau yang menjadi muara beberapa sumber air. Ada berbagai permainan air yang ditawarkan, mulai dari perahu untuk berkeliling danau hingga sepeda air.

Namun wisata air bukan satu-satunya yang ditawarkan. Ada hutan bambu yang juga menawarkan keindahannya. Pengunjung bisa menikmati kesejukan dan udara segar yang ditawarkan rimbun pepohonan bambu.

"Bukan sekedar lokasi wisata, hutan bambu ini sudah menjadi tempat penelitian perguruan tinggi. Bahkan ada ilmuwan dari luar negeri yang melakukan penelitian di sini," ungkap Kepala Desa Tumpukrenteng, Helmiawan Khodidi, Selasa (28/3/2017).

Masih menurut Hermiawan, ada sekitar 50 jenis bambu di hutan Boon Pring. Lima di antaranya jenis bambu yang dianggap langka. Pihak pengelola juga terus menambah koleksi bambu luar daerah, terutama jenis-jenis yang langka.

Luas total hutan bambu ini mencapai sekitar 30 hektar. Namun 20 hektar di antaranya diklaim sebagai bagian wilayah Perhutani. Kondisi tersebut menjadi kendala pihak pengolola eco wisata ini, untuk mengembangkan potensi hutan bambu.

"Kami masih berupaya untuk mencari solusi. Harapannya tidak ada konflik dengan Perhutani, sehingga sepenuhnya bisa kami kembangkan," tutur Helmiawan.

Masih menurut Helmiawan, awalnya lokasi Boon Pring adalah hutan yang tidak terawat. Dengan dana swadaya, warga mulai membuka sebagai lokasi wisata. Dengan bantuan Pemkab Malang, Boon Pring baru menjadi BUMDes setahun lalu.

Di hari biasa, jumlah pengunjung rata-rata 150 hingga 200 orang. Jumlah tersebut meningkat lima kali lipat saat akhir pekan.

Namun pengembangan lokasi wisata ini terkendala konflik dengan pihak Perhutani.

"Kami yakin jika tidak ada kendala pengembangan, jumlah pengunjung akan lebih besar lagi. Sebab akan ada wahana baru yang disiapkan," tandasnya.

Penulis: David Yohanes
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved