Malang Raya

Harga Ayam Anjlok, Peternak di Malang Harus Pinjam ke Bank untuk Talangan Biaya Produksi

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berharap kondisi akan lekas membaik, sehingga dirinya bisa mengembalikan pinjaman ke bank.

Harga Ayam Anjlok, Peternak di Malang Harus Pinjam ke Bank untuk Talangan Biaya Produksi
SURYAMALANG.COM/David Yohanes
Ayam broiler di kandang milik Diky Dwi, peternak di Kebunagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jumat (31/3/2017). 

SURYAMALANG.COM, PAKISAJI - Para peternak di Kabupaten Malang mengeluh, karena harga ayam broiler (pedaging) di Kabupaten Malang anjlok Rp 16.000 per kilogram.

Para peternak juga kian terpuruk, karena harga day old chick (DOC) atau anak ayam dipermainkan pengusaha.

Diungkapkan salah satu peternak asal Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Diky Dwi (22), ebenarnya harga DOC sudah ditetapkan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia, maksimal Rp 5000 per ekor.

Namun kenyataannya DOC dijual Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per ekor.

“Apalagi kalau mendekati puasa dan hari lebaran, harga DOC semakin mahal. Kalau ini tidak ditertibkan pemerintah, lagi-lagi peternak yang tertekan,” ungkap Diky, Jumat (31/3/2017).

Meski dalam kondisi harga anjlok, Diky mengaku tetap berusaha menjaga produksi. Untuk menutup modal usaha, dirinya utang ke bank.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berharap kondisi akan lekas membaik, sehingga dirinya bisa mengembalikan pinjaman ke bank.

“Tidak ada pilihan, memang cari talangan ke bank dulu. Makanya kondisinya harus membaik, harga ayam naik agar peternak untung. Kalau tidak, kami makin terpuruk karena hutang bank,” tandas Diky.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Endang Retnowati belum bisa dikonfirmasi terkait keluhan para peternak.

Saat didatangi ke kantornya, seorang staf mengatakan, Endang sedang cuti.

Sementara Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Malang, Hadi Mustofa mengatakan, dirinya masih akan melakukan pantauan di lapangan.

“Memang kondisi saat ini kurang menguntungkan bagi para peternak. Tapi biar saya ke lapangan dulu, agar tidak salah,” ucap Mustofa.

Mustofa menambahkan, selama ini para peternak memang penuh dilema. Jika beternak secara mandiri, maka harganya akan dipermainkan.

Jika melakukan kemitraan dengan perusahaan besar, harganya ditentukan oleh perusahaan tersebut.

Penulis: David Yohanes
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved