Selasa, 5 Mei 2026

Malang Raya

Tahun Ajaran Baru, Seluruh Sekolah di Kota Batu Wajib Terapkan Kurikulum 2013

Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Kota Batu, Esty Dwiastuti mengatakan, tahun ini ditargetkan semua sekolah memakai K13.

Tayang:
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
Instagram
Ilustrasi pelajar SMP 

SURYAMALANG.COM, BATU - Penerapan Kurikulum 2013 (K13) yang sudah diberlakukan ternyata belum menyeluruh diterapkan oleh sekolah di Kota Batu. Fakta di lapangan, masih ada SD dan SMP di Kota Batu yang belum menerapkan K13, dan masih memakai Kurikulum KTSP 2006.

Dari SD dan SMP di bawah naungan Dinas Pendidikan di Kota Batu, ada sembilan SMP yang memakai KTSP 2006 dan 17 SMP sudah memakai K13. Sedangkan untuk SD yang masih pakai KTSP 2006 ada 27 SMP dan yang sudah K13 ada 47 SD.

Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Kota Batu, Esty Dwiastuti mengatakan, tahun ini ditargetkan semua sekolah memakai K13.

“Tahun ajaran baru yakni 2017/2018 kami mengusahakan semua SD dan SMP sudah KTSP,” kata Esty kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (30/4/2017).

Pihaknya sudah mengajukan ke pusat untuk diusulkan semua sekolah di Kota Batu bisa menerapkan K13. Namun, lagi-lagi, itu sesuai dengan jatah kuota yang diberikan oleh kementerian pusat.

Jika memang dari sekolah yang belum K13 tidak sampai pada kuota yang diberikan dari pusat, maka diusahakan akan mandiri. Yakni menggunakan APBD. Esty menjelaskan mengapa memakai APBD, karena akan berpengaruh pada pelatihan guru dan perubahan sistem mengajar.

“Kami mengikuti kuota dari pusat dulu ya. Tapi kami optimis tahun ajaran baru semua sudah serentak memakai K13,” imbuhnya.

Sebenarnya, lanjut dia, beberapa sekolah yang belum memakai K13 di Kota Batu tidak mendesak untuk segera memakai K13. Hanya saja, pihaknya menginginkan sistem pembelajaran itu serentak dan sama di Kota Batu.

Isi pelajaran yang diterapkan juga tidak jauh berbeda, hanya saja cara dan sistemnya yang berbeda. Semisal, sistem penilaian pada K13 guru harus bisa menghafal semua muridnya, karena penilaian setiap siswa berbeda. Dan penilaiannya ada yang berupa narasi.

“Dari peran orang tua juga lebih aktif ketika menerapkan K13. Anak dan orang tua jadi ada interaksi di setiap pembelajaran. Lalu ketika belajar tentang agama, dalam satu tempat bisa mendapatkan beberapa mata pelajaran,” papar dia.

Sementara itu, satu sekolah yang masih menerapkan KTSP 2006, SDN Ngaglik 1, mengakui memang tidak ada yang dipermasalahkan terkait masih belum menerapkan K13 secara serentak.

Namun pihaknya mengakui, kalau ada kegiatan seperti lomba, harus menyesuaikan materi pelajaran yang akan dilombakan, baik KTSP 2006 maupun K13.

“Kalau ada lomba kan harus menyesuaikan materi, terutama kami menyesuaikan dengan materi K13. Intinya perbanyak materi. Tetapi selebihnya materi isi pelajaran itu sama, anak-anak juga sudah mendapatkan di kelas sebelumnya,” kata Kepala SDN Ngaglik 1, Yayuk Rahayuningsih.

Meski begitu, di sekolah penerapan seperti praktek juga sudah diperbanyak di sekolahnya. Hal itu dilakukan, ketika dilakukan penerapan K13 serentak, maka pihak guru di sekolah tidak terkejut dan kebingungan. Ia mengatakan, ketika K13 serentak dilakukan di Kota Batu, maka harus ada pelatihan kepada guru juga yang dilakukan secara serentak.

“Otomatis bukunya kan juga ganti. Cara pembelajarannya juga ganti tentu. Anak-anak juga terlatih mendapatkan materi ketika mengikuti lomba cerdas cermat. Jadi sudah sepantasnya diterapkan di Kota Batu,” kata dia.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved