Mudik Lebaran

Hindari Kemacetan Arus Balik Lebaran, Perahu Tradisional di Sungai Brantas jadi Solusi

Sejak H-4, para pemudik dari arah Surabaya tujuan Madiun dan Jawa Tengah, memilih masuk ke Kabupaten Jombang dan Nganjuk menyeberangi Sungai Brantas

Hindari Kemacetan Arus Balik Lebaran, Perahu Tradisional di Sungai Brantas jadi Solusi
SURYAMALANG.COM/Sutono
Perahu penyeberangan tradisional yang banyak dimanfaatkan pemudik, baik menyeberangkan motor maupun mobil. 

SURYAMALANG.COM, JOMBANG-Demi mengindari kemacetan di Simpang Bangjuri (Jombang, Nganjuk Kediri) dan jembatan Ploso Jombang, sejumlah pemudik memilih potong kompas dengan menyeberangi Sungai Brantas melewati Kabupaten Jombang, menggunakan jasa perahu tradisional.

Penyeberangan dengan perahu tradisional Sungai Brantas, Desa/Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang yang berbatasan dengan Desa Munung, Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk, selama musim mudik lebaran jauh lebih sibuk dibandingkan hari biasa.

Bahkan, perahu tradisional yang beroperasi kini tak hanya melayani orang atau kendaraan roda dua, tapi juga melayani mobil atau kendaraan roda empat.

Sejak H-4, para pemudik dari arah Surabaya tujuan Madiun dan Jawa Tengah, memilih masuk ke Kabupaten Jombang dan Nganjuk menyeberangi Sungai Brantas karena ingin menghindari kemacetan yang biasanya terjadi di wilayah Simpang Bangjuri.

Sedangkan yang tujuan Tuban, Lamongan, Rembang, memilih menggunakan jasa penyeberangan perahu guna menghindari kemacetan di jembatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Setelah sampai di Desa Munung, Kecamatan Jatikalen, Nganjuk, pemudik bisa melanjutkan perjalanan ke arah Madiun dan Jawa Tengah melewati jalur alternatif, tembus Kecamatan Bagor dekat Kabupaten Madiun.

Sedangkan tujuan Tuban, Lamongan, Rembang dan Pantura Jawa Tengah, bisa melanjuutkan perjalanan ke Ploso, Kabuh, Ngimbang, dan terus ke Lamongan dan Tuban.

Saat arus balik seperti sekarang ini, warga yang kembali ke Surabaya, Sidoarjo, dan Malang dari Madiun dan Tuban, juga banyak yang memilih menyeberangi Brantas dengan jasa perahu daripada melewati simpang Bangjuri dan jembatan Ploso yang rawan macet.

Totok, salah seorang warga,  di Desa Munung, Kecamatan Jatikalen, Nganjuk, yang berbatasan dengan Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, menuturkan saat ini ada sekitar empat perahu tradisional yang melayani penyeberangan di perbatasan Nganjuk-Jombang ini.

Kendaraan roda dua dikenakan biaya menyeberang sebesar Rp 2.000, sedangkan untuk mobil Rp 15.000. Pada hari biasa, penyedia jasa penyeberangan dengan perahu tradisional mengaku pendapatannya sekitar Rp 600.000 per hari.

"Namun pada musim mudik seperti sekarang ini bisa mencapai Rp 1 jutaan per hari," kata Munir, salah seorang penyedia jasa penyeberangan di Sungai Brantas asal Ploso, Jombang.

Munir mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan keamanan bagi para penumpang atau pengguna jasa perahu. Di antaranya  mulai dari memperbanyak kru dan pengawasan ekstra.

Septian Agus, pemudik asal Madiun, mengakui dengan membayar Rp 15.000  dia bisa menghindari kemacetan di simpang Bangjuri dan jembatan Ploso, Jombang. Jembatan Ploso rawan macet akibat pertemuan arus lalulintas dari tiga jalur. Yakni dari Lamongan,  Mojokerto dan Nganjuk.

“Dengan menggunakan jasa perahu, saya bisa menghindari kemacetan dan bisa cepat sampai tujuan karena potong kompas," ujar Septian yang dalam perjalanan ke Surabaya, Jumat (30/6/2017)

Penulis: Sutono
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved