Malang Raya

Dianggap Cetak Pembantu Rumah Tangga, Jurusan Keperawatan Sosial SMKN 2 Malang Kurang Diminati

"Sekolah dan dinas pendidikan tidak henti melakukan sosialisasi program untuk menyentuh masyarakat dalam bentuk bursa kerja atau lainnya,"

SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Tiwi Pratiwi SPd, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan SMKN 2 Malang 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Kurangnya pemahaman masyarakat terkait jurusan Keperawatan Sosial, membuat jurusan di SMKN 2 Malang itu kekurangan siswa hingga 46 orang. Belum lagi ada 9 calon siswa baru yang tidak daftar ulang.

Menurut Tiwi Pratiwi SPd, Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan, masyarakat sering kali menganggap jurusan Keperawatan Sosial (KS) mencetak pembantu rumah tangga atau perawat orang tua.

"Padahal siswa jurusan KS kesempatan untuk berkembangnya cukup bagus. Apalagi saat ini Jepang dan Jerman sedang mencari banyak care giver dari Indonesia," jelasnya pada SURYAMALANG.COM, Selasa (11/7/2017).

Tidak hanya itu, lulusan KS juga bisa melanjutkan ke arah psikologi, guru TK, perawat bayi, perawat pasien autisme, dan melanjutkan ke keperawatan atau ahli gizi.

"Sekolah dan dinas pendidikan tidak henti melakukan sosialisasi program untuk menyentuh masyarakat dalam bentuk bursa kerja atau lainnya," lanjut Tiwi.

Keperawatan Sosial yang hanya ada di SMKN 2 dan SMK Bakti Luhur itu juga bisa melanjutkan ke sekolah tinggi kesejahteraan sosial.

"SMKN 2 rutin mendapatkan beasiswa prestasi ke sana, kami juga ada kerjasama dengan lembaga insan medika yang merekrut suplai tenaga keperawatan di home care dan asisten perawat di rumah sakit," terangnya.

Pada PPDB SMA/SMK gelombang 2, sudah ada 45 orang yang masuk di jurusan Keperawatan Sosial sehingga masih ada 10 bangku kosong.

"Jurusan lain yang masih kurang adalah Tata Boga sebanyak 2 orang, Perhotelan 5 orang, Usaha Perjalanan Wisata 5 orang, dan Teknik Komputer dan Jaringan sebanyak 2 orang. Itu adalah kekurangan pagu dari yang tidak melakukan daftar ulang," jelasnya.

Ia juga menyayangkan sistem PPDB online yang hanya memberi 2 pilihan pada siswa.

"SMK kan jurusannya banyak, jadi banyak pilihan. Jika hanya disediakan 2 pilihan ya sangat terbatas. Paling tidak seharusnya ada 4-5 pilihan sehingga siswa bisa teralokasi sesuai minat," sarannya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved