Malang Raya
Mahasiswa Unisma Serap Pesan Dosen dari Suriah, Dukung Indonesia Anti Radikalisme
"ISIS adalah organisasi yang jauh dari Islam.Bahkan sama sekali tidak ada korelasinya karena ajarannya bukanlah apa yang diajarkan oleh Islam moderat"
Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Syekh Syadi Musthofa Arbash dari Suriah memberikan kajian Islam di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang, Selasa (25/7/2017).
Pendiri STAI Imam Syafi'i Cianjur itu membahas tentang paham radikal yang menjadi penyebab kerusuhan di Suriah beberapa waktu terakhir.
"Orang Islam yang keluar dari ajaran ulama pendahulunya, ada di 2 kutub. Yang pertama adalah kutub yang terlalu terikat dengan Hadist dan Al Quran sehingga telalu kaku, dan kedua adalah kutub yang terlalu bebas tanpa batasan. Keduanya sangat berseberangan namun sama-sama berbahaya," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ajaran Islam hanyalah satu yaitu yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. "Islam itu bisa dikatakan sebagai Islam moderat, Islam yang tidak ada bedanya dari abad 14 hingga sekarang," tutur pria yang sudah 6 tahun menetap di Indonesia itu.
Islam di Indonesia dan di Suriah adalah sama, kecuali segelintir orang yang keluar dari ajaran ulama terdahulu.
"Di media banyak pemberitaan mengenai Islam di Suriah adalah Islam radikal, yang sedikut-sedikit menggunakan bom atau senapan. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Rakyat Suriah tidak demikian dan jangan sampai menjadi demikian," jelas Syadi.
Menurutnya, yang saat ini terjadi di Suriah adalah penyerangan dari berbagai penjuru, yaitu dari orang yang memusuhi Islam dan sebagian besar bukan rakyat Suriah.
"Kebanyakan pembuat gaduh itu didatangkan dari luar Suriah dan diajari paham radikal. Kemudian diberi senjata dan bom," katanya.
Ia menambahkan, di Suriah masih sangat banyak majelis sholawat, majelis taklim yang beroperasi dan menggunakan ajar Islam dari para ulama. Itu membuktikan bahwa pembuat gaduh bukanlah rakyat Suriah.
Syadi juga menyinggung tentang ISIS yang sering disebut-sebut dalam kegiatan radikal membawa nama Islam.
"ISIS adalah organisasi yang jauh dari Islam. Bahkan sama sekali tidak ada korelasinya karena ajarannya bukanlah apa yang diajarkan oleh Islam moderat," ungkapnya.
Ia pun berpesan pada sivitas akademika Unisma yang mengikuti kajian tersebut untuk menjaga rakyat Indonesia dari paham radikal.
"Ini adalah tugas akademisi, universitas, ulama, ustadz, dan semua elemen untuk menjaga rakyat Indonesia. Jangan sampai apa yang terjadi di Suriah, terjadi di Indonesia hanya karena paham radikal," kata dia.
Ia mengajak umat Islam untuk kembali ke ajaran Islam moderat karena semua tata cara hidup di dunia ada di ajarannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/unisma-suriah_20170725_163349.jpg)