Malang Raya

Malang Darurat Bunuh Diri ? Psikolog Cantik Ini Beberkan Soal Fenomena Menyakiti diri Sendiri

Yang sering terjadi pada anak muda adalah self harm atau menyakiti diri sendiri. Hal itu menjadi semacam kecanduan sendiri hingga beberapa kebablasan.

Malang Darurat Bunuh Diri ? Psikolog Cantik Ini Beberkan Soal Fenomena Menyakiti diri Sendiri
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Psikolog Cleoputri Yusainy PhD Psi 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Fenomena bunuh diri yang beberapa kali terjadi dalam 6 bulan terakhir di Kota Malang, menurut Psikolog Cleoputri Yusainy PhD Psikolog, tidak disebabkan faktor tunggal.

"Secara psikologi tidak bisa melihat akibat lalu menebak penyebabnya. Perilaku manusia juga penyebabnya tidak tunggal. Namun jika manusia mengambil nyawa dirinya sendiri, teori psikologinya adalah merasa realita sekitar sudah tidak bisa dia kendalikan. Untuk take control lagi, mereka memutuskan untuk menghilangkan nyawanya sendiri," terang Cleo pada SURYAMALANG.COM, Selasa (8/8/2017).

Ia menegaskan, tidak mungkin hanya satu penyebab bisa membuat seseorang bunuh diri. "Tidak semua yang bunuh diri mengalami gangguan mental, bisa jadi karena alasan dan faktor lain. Yang gangguan mental juga belum semua berakhir bunuh diri," tuturnya.

Depresi, misalnya, memiliki prevalensi besar untuk alasan seseorang bunuh diri. Namun depresi tidak bisa diketahui sebelum seseorang menjalani pemeriksaan mental menyeluruh.

"Paling penting adalah deteksi dini orang yang melakukan bunuh diri. Sensitivitas lingkungan dan teman terhadap mengenali perubahan perilaku seseorang juga penting. Kita harus cepat tanggap terhadap perubahan perilaku seseorang terutama yang dekat dengan kita," ujarnya.

Menurutnya, curhat tidak menyelesaikan masalah. Namun bisa membantu sementara waktu dan yang dicurhati bisa mencoba mengajak mencari solusi bersama.

"Pengobatan depresi tidak bisa hanya sekadar curhat atau ke psikolog, tapi harus dengan medis karena merupakan gangguan mental karena chemical imbalance," jelasnya.

Hal lain yang sering terjadi pada anak muda adalah self harm atau menyakiti diri sendiri. Malah, hal itu menjadi semacam kecanduan sendiri hingga beberapa kebablasan dan akhirnya menghilangkan nyawanya.

"Prevalensinya di kalangan mahasiswa adalah 15-20 persen di negara maju. Bentuknya bisa mengiris pergelangan tangan, amplas kulit, mencatok rambut yang dikenakan pada kulit kepala, hingga mengonsumsi obat berlebihan. Lama-kelamaan mereka bisa kebablasan," kata Cleo.

Hal yang paling sederhana namun sulit dilakukan untuk mencegah terjadinya penghilangan nyawa diri sendiri adalah belajar menerima realita apa adanya. "Kalau harapannya tidak tercapai jangan memaksa. Mencoba belajar berdamai dengan realitas kemudian dengan diri sendiri," tutupnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved