Malang Raya

Menimba Ilmu di Tiongkok, Yuk Simak Kisah Mahasiswi Universitas Negeri Malang Ini . . .

"Waktu itu saya dan mahasiswi dari Turki dan Thailand baru saja pulang jalan-jalan, saat turun dari kereta tiba-tiba kami dicegat satpam,"

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Iis Nanda Pratiwi, mahasiswi Universitas Negeri Malang. 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Satu tahun tinggal dan belajar di Guangxi Normal University Tiongkok, menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), Iis Nanda Pratiwi.

Tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar bahasa dan budaya secara langsung dari masyarakat lokal Tiongkok, tapi juga beberapa pengalaman lain yang tidak terlupakan.

Salah satunya adalah ketika ia dan dua mahasiswa asing lainnya dicegat oleh satpam di stasiun kereta.

"Waktu itu saya dan mahasiswi dari Turki dan Thailand baru saja pulang jalan-jalan, saat turun dari kereta tiba-tiba kami dicegat satpam," cerita mahasiswi asal Mojokerto itu.

Satpam tersebut mengira mereka adalah warga Xinjiang, daerah tempat tinggal kaum muslim keturunan Turki di Tiongkok, dan meminta paspor mereka.

"Sebenarnya toleransi mereka cukup tinggi, terutama para kaum muda yang open-minded. Tapi memang satpam dan polisi sering meminta kami menunjukkan paspor," cerita mahasiswi prodi Bahasa Mandarin UM itu.

Meski begitu, adapula warga berusia tua yang melihat wanita berjilbab dengan pandangan dari bawah ke atas.

"Masih ada juga yang seperti itu, tapi tidak banyak. Selama satu tahun kemarin saya merasa nyaman tinggal di Tiongkok," lanjut gadis kelahiran 6 September 1996 itu.

Bahkan, ia merasa banyak hal yang ia petik dari kuliah singkatnya di negeri tirai bambu itu. Antara lain kedisiplinan warganya.

"Mereka sangat tepat waktu, sangat disiplin. Ada waktu khusus mereka untuk istirahat setiap harinya pada pukul 12.00-14.00, maka mereka benar-benar berhenti bekerja. Lalu hingga pukul 17.00 mereka akan mulai bekerja lagi sampai waktunya pulang," terang Iis.

Selain itu, warga Tiongkok adalah orang-orang pekerja keras san lebih suka membuka usaha sendiri ketimbang menjadi pegawai.

"Misalnya, kalau mereka memiliki bisnis online, bisnis itu benar-benar serius memiliki kantor dan pegawai yang bekerja keras, serta mandiri tanpa bantuan negara," ujarnya.

Meski begitu, Iis mengaku belum tertarik untuk mengikuti jejak warga Tiongkok dan menjadi pengusaha.

"Belum tertarik ke sana, apalagi aku basicnya ilmu pendidikan jadi inginnya jadi pendidik," tuturnya.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved