Malang Raya

Ini Kegiatan 13 Tahun Peringatan Munir yang Digelar Sejumlah Komunitas di Malang Raya

Kegiatan ini dilaksanakan serentak bersamaan dengan inisiatif-inisiatif serupa oleh para pecinta kebenaran dan keadilan yang terus berseru-seru bagi k

Ini Kegiatan 13 Tahun Peringatan Munir yang Digelar Sejumlah Komunitas di Malang Raya
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Pementasan tari dalam Peringatan 13 tahun Pembunuhan Munir, bertajuk Maklumat Munir di Kafe Pustaka, Universitas Negeri Malang, Kamis (7/9/2017). Kegiatan untuk memperingati kematian aktivis hak asasi manusia yang tewas diracun ini diisi dengan pentas seni, musikalisasi puisi dan doa bersama lintas agama. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Sejumlah komunitas memperingati 13 tahun meninggalnya Munir, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Munir meninggal karena pembunuhan dengan racun di atas pesawat 7 September 2004.

Kegiatan yang dibuat oleh sejumlah komunitas untuk mengingat pembunuhan Munir antara lain dilakukan di Kafe Oase, Selasa (5/9/2017) dan Omah Munir yang menggelar acara di Kafe Pustaka Kota Malang, Kamis (7/9/2017).

Sejumlah pegiat seni, literasi, juga akademisi menggelar Sastra Purnama edisi Munir di Kafe Oase beberapa waktu lalu.

"Sastra Purnama digelar untuk membumikan sastra. Dan khusus edisi Munir, kami ingin mengenang dan membangkitkan kembali perjuangan Munir," ujar Tim Sastra Purnama, Al Muiz Liddinillah.

Sementara itu, Omah Munir menyelenggarakan peringatan 13 tahun pembunuhan Munir
Di Kafe Pustaka, sebagai puncak peringatan pembunuhan terhadap Munir, Kamis (7/9/2017).

"Kami mengangkat tema Menyeru Keadilan, Merawat Toleransi," ujar Ketua pelaksana Mifdal Zusron Alfaqi.

Acara ini diisi dengan Seni Perjuangan HAM seperti sajian musik akustik, musikalisasi puisi, pentas kesenian mahasiswa daerah, dan mural kaos.

Kegiatan ditutup dengan seruan keberagaman agama untuk kasus pembunuhan Munir dari setiap perwakilan agama yang hadir.

"Munir mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman. Maka melalui acara peringatan pembunuhan Cak Munir ini, kita terus merajut nilai kemanusiaan dan persatuan tanpa membeda-bedakan satu sama lain,", tegas Mifdar.

Mifdal menambahkan kegiatan ini dilaksanakan serentak bersamaan dengan inisiatif-inisiatif serupa oleh para pecinta kebenaran dan keadilan yang terus berseru-seru bagi keadilan.

Sementara itu, Istri Almarhum Munir Suciwati dalam rilis yang diterima SURAMALANG.COM mengatakan Omah Munir tak henti-hentinya terus menggelorakan peringatan berpulangnya Mendiang Munir Said Thalib (1965-2004), pejuang kemanusiaan, sebagai bagian merawat akal sehat di tengah-tengah gempuran dua hal.

Pertama, rasa keadilan bagi penegakan hukum pembunuhan Munir yang hingga berganti dua Presiden RI dalam 13 tahun ini tak kunjung terwujud.

"13 tahun paska pembunuhan Munir bukan waktu yang singkat, manakala hingga hari ini hiruk pikuk 'cuci tangan dan saling lempar tanggung jawab' atas tidak diketemukannya dokumen TPF KMM (Tim Pencari Fakta Kematian Kasus Meninggalnya Munir)", ujar Suciwati.

Kedua, politik identitas secara sengaja dan masif dibentur-benturkan bagi kepentingan politik praktis yang dangkal, dengan mempertaruhkan kebhinekaan berbangsa dan bernegara.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved