Malang Raya
Bahana Badut, Upaya Pelaku Seni dan Budaya Membahanakan Candi Badut
Perhelatan seni dan budaya yang memadukan nuansa masa lalu dan masa kini digelar di Candi Badut, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jumat (8/9/2017).
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, DAU - Perhelatan seni dan budaya yang memadukan nuansa masa lalu dan masa kini digelar di Candi Badut, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jumat (8/9/2017) malam.
Pagelaran bertajuk ‘Bahana Badut’ ini digelar sejumlah komunitas di Malang Raya dan Indonesia.
Pagelaran ini melibatkan sejumlah musisi lintar negara dan genre, seperti Filastine & Nova featuring Totok Tewel, Arrington de Dionyso (Amerika Serikat), Iksan Skuter, Monohero, Redy Eko Prastyo (Dawai Nusantara), Mystical Bumi Nusantara, Celoteh Sastra, dan sejumlah seniman lain.
Pagelaran seni ini menjadi puncak acara ‘Bahana Badut’ yang digelar di Candi Badut.
Sebelum pagelaran, ada beberapa kegiatan, yakni belajar pusaka budaya ‘Jelajah Jejak Peradaban Kajuruhan’ ke Candi Badut, reruntuhan Candi Gasek, dan Candi Karangbesuki.
Kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan ‘Konservasi dan Fungsionalisasi Tinggalan Historis-Arkeologis di sub-DAS Hulu Metro’ yang dipandu Sejarawan dari Universitas Negeri Malang (UM) yang juga aktivis Patembayan Citralekha, M Dwi Cahyono.
Kemudian juga ada prosesi ‘Mangangsu Tirthamreta Kali Metro’ dan ‘Mawasuh Lingga Puri Badut’ oleh Bejo Teater Celoteh & Rekan.
Rangkaian kegiatan di siang hari itu kemudian ditutup dengan pagelaran seni.
Saat pagelaran seni, ada penyajian kisah pembangunan Candi Badut secara musikal oleh Nova Ruth yang berkolaborasi dengan Totok Tewel, gitaris gaek Indonesia yang juga ayah Nova Ruth.
Dosen Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono dalam orasi budayanya menegaskan Candi Badut butuh perhatian.
Sebab candi Hindu tertua di Jawa Timur ini ‘dianaktirikan’ dan kurang perhatian karena berada di daerah perbatasan.
“Candi Badut berada di dua daerah berbeda, dan menjadi korban ke-ego-an. Candinya di Kabupaten Malang. Sedangkan akses dan viewnya di Kota Malang. Walhasil, saling mengiri untuk membhakti, dan pertanyakan siapa yang dapat untung,” kata Dwi.
Dwi menambahkan, “jika kondisinya demikian, pada siapa musti berharap, selain kepada diri kita sendiri untuk tulus berbhakti bagi kebaikan Candi Badut. Semestinya candi ini diposisikan sebagai cagar budaya Nasional atau regional. Namun, bilamanakah pemosisian yang demikian itu bakal diberlakukannya?. Kapankah dua penguasa di Malangraja (Malang Raya) bertindak bersama untuk Candi Badut?. Maka, minimal kita, dengan kemampuan yang ada, berbuat bersama untuknya. Bahana Badut, meski hanya sebuah ikhtiar kecil, berikan kontribusi kepadanya. Semoga dapat membahakannya dan membuahkan makna”.
Nukilan tegas di atas merupakan penutup dari orasi budaya Dwi dalam kegiatan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/pementasan-kolaborasi-seni-bertajuk-bahana-badhut-di-candi-badut-kabupaten-malang_20170909_194659.jpg)