Selasa, 5 Mei 2026

Nasional

Update Gunung Agung di Bali - Ular dan Monyet Mulai Turun, PVMBG Nyatakan Status Awas

Kepala PVMBG telah melaporkan kenaikan status Awas tersebut kepada Kepala BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD kabupaten di sekitar Gunung Agung untuk di

Tayang:
Editor: Adrianus Adhi
Tribun Bali
Gunung AGung 

SURYAMALANG.com - Tanda-tanda Gunung Agung di Bali bakal meletus semakin terlihat.

Saat ini puluhan binatang seperti kera dan ular sudah mulai turun gunung. Kegempaan meningkat tajam.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pun tadi malam menetapkan status Gunung Agung naik dari Siaga (Level II) ke Awas (Level IV), yang merupakan tingkatan status tertinggi gunung berapi.

"Dengan ini kami sampaikan bahwa kita meningkatkan status Gunung Agung dari Siaga menjadi Awas atau Level IV. Mulai malam ini (tadi malam) status Awas pukul 20.30 Wita.

Radius tadinya 6 jadi 9, yang sektoral dari 7 menjadi 12," kata Kepala PVMBG, Kasbani, di Pos Pengamatan Gunung Agung, Desa Rendang, Karangasem kepada Tribun Bali Jumat (22/9/2017) malam.

Dari pemantauan pos tadi malam, Gunung Agung tak terlihat.

Gunung tertinggi di Bali ini tertutup awan tebal dan turun rintik hujan.

"Kantung magma masih tetap tapi fluida sudah naik ke permukaan dan rentetan gempa semakin intensif, tapi masih belum tahu meletusnya kapan," tambah Kasbani.

Senada dengan Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, I Gede Suantika.

Menurutnya, secara visual belum tampak kepulan abu di puncak Gunung Agung tapi kegempaan terus meningkat tajam sejak tiga hari terakhir.

"Hari ini (kemarin), meningkat tajam. Dari situ akhirnya disimpulkan kenaikan status dari Siaga ke Awas pada pukul 20.30 Wita," ungkapnya.

Rekomendasi PVMBG adalah masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 9 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 12 kilometer.

Di dalam radius ini tidak boleh ada wisatawan atau aktivitas masyarakat di dalamnya.

Kepala PVMBG telah melaporkan kenaikan status Awas tersebut kepada Kepala BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD kabupaten di sekitar Gunung Agung untuk diambil antisipasi.

Dengan peningkatan status Awas, Kepala Pelaksana Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Dewa Made Indra, mengingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas di daerah bahaya.

"Zona merah di radius 9 km plus sektoral barat daya, selatan, tenggara, timurlaut, dan utara sejauh 12 km," ujarnya.

Pada Jumat (22/9/2017) kemarin, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung terus meningkat.

Magma di dalam kawah terus naik ke permukaan.

Gempa tektonik lokal mulai dirasakan warga yang berada di kawasan rawan bencana III, II, I (KRB I). Seperti di Kecamatan Kubu, Rendang, Manggis, dan Karangasem.

Kasbani menjelaskan, gempa hampir mencapai 600 kali.

Sedangkan dalam periode pukul 00.00-12.00 Wita terjadi 58 gempa vulkanik dangkal, 318 kali gempa vulkanik dalam, dan 44 kali gempa tektonik lokal.

Amplitudo vulkanik dalam masih stagnan rata-rata 4 sampai 8 mm.

Untuk vulkanik dangkal amplitudo 3-5 MM, durasinya 10-11 detik. Gempa tektonik lokal amplitudonya 7-8 MM, durasi mengalami  peningkatan drastis dari 30-47 detik menjadi 36-89 detik.

Kasbani menambahkan, magma terus naik ke permukaan. Asap kawah mulai naik ke atas, dan menutupi gunung agung.

“Sekarang masih tinggi-tingginya (gempa). Setiap hari aktivitasnya lebih tinggi dibanding hari sebelumnya. Sejak ditetapkan level II (Waspada) tanggal 14 September, jumlah gempa puluhan. Saat meningkat ke Siaga, jumlah gempa naik hingga ratusan kali,” katanya.

Seperti diketahui, energi yang dihasilkan dari aktivitas magma di bawah kawah Gunung Agung cukup tinggi.

Itu bisa diprediksi dari jarak waktu letusan pada 54 tahun silam, dari tahun 1963.

Karakter Gunung Agung sangat eksplosif, berbeda dengan gunung berapi lainnya yang berada di Indonesia.

Dilihat dari frekuensi gempa serta kekuatan amplitudo, perubahannya begitu cepat dan meningkat begitu tajam.

Perubahan yang ditunjukkan Gunung Agung sangat berpotensi ke arah letusan.

"Tapi belum bisa dipastikan kapan terjadi letusan. Petugas akan terus membaca tanda-tanda dari gunung," tandas Kasbani.

Tanda dari Binatang

Sementara itu, sejumlah binatang yang selama ini hidup di kawasan puncak Gunung Agung dikabarkan sudah mulai turun ke lereng gunung.

Binatang-binatang tersebut masuk ke pemukiman warga.

Bendesa Adat Sogra, Kecamatan Selat, Jro Mangku Wayan Sukra, mengatakan binatang seperti monyet dan ular sudah mulai keluar sejak tiga hari lalu.

"Mungkin kepanasan di atas Gunung Agung,” kata Jro Mangku Sukra, Jumat (22/9/2017).

Pria yang juga Panglingsir Pura Pasar Agung, Desa Adat Sogra, ini menjelaskan, turunnya binatang dari puncak gunung merupakan tanda akan terjadi erupsi.

Biasanya antara 1-3 bulan sebelum erupsi, katanya, hewan di gunung turun dan masuk ke rumah warga.

Dikatakan, sebelum Gunung Agung erupsi tahun 1963, binatang buas di atas gunung juga keluar.

Seperti macan, ular, kera, dan binatang unik yang jarang ditemukan di pemukiman warga.

“Hewan yang turun jumlahnya masih sedikit, bisa dihitung. Kebanyakan hewan turun hingga di parkiran Pura Pasar Agung. Mungkin ini tanda-tanda gunung akan meletus. Kondisi ini tidak seperti biasanya,” aku Jro Mangku Sukra.

Untuk tanda lainnya masih belum tampak.

Seperti hujan abu yang membuat gatal dan luka jika menempel di badan.

Tanda secara niskala seperti ada bunyi baleganjur dan gamelan hingga kini belum muncul.

"Kalau gempa sudah sering terjadi. Makanya saya mengungsi," tambah Jro Mangku.

Gempa Guncang Bali, Berpusat di Karangasem

Sementara, Hingga Sabtu (23/9/2017) siang sudah terjadi beberapa gempa bumi di Bali.

Getaran gempa terasa di beberapa wilayah seperti Denpasar dan Gianyar.

Gempa terakhir dirasakan sekitar pukul 11.00 WITA.

Karyawan gedung perkantoran di Gianyar pun merasakan adanya guncangan tersebut.

"Ada gempa lagi, televisi bergerak-gerak," ucap Imam, seorang karyawan di Perkantoran ber lantai 4 di Gianyar, Bali, Sabtu (23/9/2017).

Gempa bumi sudah terasa sejak beberapa hari terakhir.

Pusatnya pun sama yakni di Karangasem, Bali, kabupaten yang paling dekat dengan Gunung Agung yang saat ini statusnya berada di level tertinggi yaitu AWAS . 

Adapun informasi resmi yang telah diterima Tribun Bali dari Pusdalops BPBD Provinsi Bali menyebutkan bahwa gempa bumi terjadi pukul 10:12:55 WIB.

Kekuatan gempa sebesar 3,7 Skala Ritcher dengan lokasi di 8.30 LS - 115.51 BT (9 km BaratLaut KARANGASEM-BALI), dengan kedalaman 6 KM.

Sebelumnya rentetan gempa yang dirasakan sampai keluar Karangasem juga sudah terjadi beberapa kali seperti dilansir Tribun Bali dari akun @infogempaa. 

Gempa
Gempa (Akun Instagram InfoGempa)

Artikel ini pernah tayang di Tribun Bali AWAS, Gunung Agung Tertutup Awan Tebal dan Turun Rintik Hujan, Binatang Turun ke Lereng Gunung dan Hingga Siang Ini Beberapa Kali Gempa Guncang Bali, Berpusat di Karangasem, Terasa Sampai Denpasar

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved