Malang Raya
Ada Adu Inovasi Siswa di Universitas Muhammadiyah Malang, Simak Karya Unik Ini
Salah satu karya di acara ini adalah No Hand Toothbrush ( NHTB) atau sikat gigi buat penyandang tuna daksa yang tidak memiliki tangan.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, DAU - Sebanyak 173 Finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat SMA/MA berlaga di Dome Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM), Rabu (11/10/2017).
Dalam acara yang diadakan oleh Kemendikbud itu setiap finalis diberi stan untuk memamerkan karya dan poster mereka.
Salah satu finalais dlam kegiatan ini yakni Sulthan Aulia Fadli dan Axel Rizqy Saputra, siswa SMA Internasional Budi Mulya Jogjakarta.
Mereka menampilkan No Hand Toothbrush ( NHTB) atau sikat gigi buat penyandang tuna daksa yang tidak memiliki tangan.
"Ide awalnya saat magang sosial di SLB. Kami melihat ada keterbatasan dalam kegiatan sehari-hari karena tidak punya tangan," jelas Sulthan, Rabu (11/10/2017).
Akhirnya dibuatlah sikat gigi rekayasa untuk solusi mereka.
Modelnya seperti sikat gigi biasa, namun digerakkan oleh listrik dengan daya rendah.
"Tapi sikat giginya tidak ada listriknya," tambah Axel. Penyandang tuna daksa bisa memakainya dengan aman.
Saat mengerjakan ini, mereka sempat kesulitan untuk menggerakkan alatnya sebab perlu program layaknya robot.
Akhirnya dengan bantuan guru bisa mengatasi masalah ini.
"Ke depan, kami ingin memperkecil alat dan wireless," jawab mereka.
Mereka ingin bekerjasama dengan pemerintah yang konsern pada disabilitas agar bisa mengembangkan sikat gigi buat penyandang tuna daksa tanpa tangan.
Proses pembuatan selama setahun karena masih belajar dan perlu banyak waktu.
Biaya pembuatan alatnya dibawah Rp 700 ribu.
Biaya terbesar untuk pembelian alat micro controler.
"Dari hasil ujicoba ke penyandang difabel, untuk sikat gigi lebih mudah serta hasil efektifitasnya bisa mengurangi kadar plak lebih banyak dari biasa," papar mereka.
Sedang dua siswa dari MAN 3 Kota Malang yaitu Yusuf Gladiensyah dan Rahmah Nur Diana mengangkat Candi Badut yang terkesan tidak memiliki manfaat karena hanya untuk foto-foto dikaitkan dengan produk sanitair di kawasan Karangbesuki.
Dari candi itu bisa didapat motif baru untuk jadi motif sanitair.
Suharlan, Kasubdit Peserta Didik, Pembinaan SMA Kemendikbud menambahkan minat siswa dalam meneliti terus meningkat.
Untuk tahun ini, yang mendaftar mencapai 2092. Naskah yang masuk ada 1.207. Kemudian jadi 90 karya penelitian dari 173 peserta.
"Finalisnya dari berbagai daerah termasuk Papua," kata dia.
Pemenang dari tingkat nasional di ajang ini akan dikirim ke event internasional pada 2018.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/sikat_20171011_204625.jpg)