Malang Raya

Kamu Gemar Karya Seni Patung? Silakan Datang ke Dewan Kesenian Malang!

Patung berjudul 'Ikhlas Tanpa Batas' itu menjadi sasaran pandangan utama pengunjung pameran tunggal keramik seni karya Ponimin

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Pameran karya seni patung di Dewan Kesenian Malang (DKM) di Jl Majapahit Kota Malang, Minggu (29/10/2017). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tiga patung besar menyambut ketika menjejakkan kaki di halaman gedung Dewan Kesenian Malang (DKM) di Jl Majapahit Kota Malang, Minggu (29/10/2017).

Ketiga patung itu menggambarkan tiga orang perempuan. Patung berjudul 'Ikhlas Tanpa Batas' itu menjadi sasaran pandangan utama pengunjung pameran tunggal keramik seni karya Dr Ponimin.

Selama empat hari mulai Sabtu (28/10/2017) hingga Selasa (31/10/2017) Ponimin memerkan hasil karyanya di gedung tersebut. Ponimin merupakan seniman kriya keramik. Pameran kali ini merupakan pameran tunggal oleh Ponimin yang bertajuk 'Kendi Patirtan Kehidupan' dalam geliat tanah liat kreasi artistik.

Terdapat 40 keramik seni yang ditampilkan di pameran ini. Ketika pengunjung tiba di area DKM, ketiga patung besar itu menyambut. Patung itu menjadi area berfoto oleh pengunjung karena bentuknya yang unik.

Patung itu merupakan rangkaian atas keramik-keramik berukuran kecil. Ketiga patung membawa kendi, dengan beberapa patung anak kecil bergelayutan di tubuh ibu patung.

"Patung itu berjudul 'Ikhlas Tanpa Batas', ya seperti halnya ibu yang ikhlas dalam memberi makan dan menyusui anak-anaknya. Seorang ibu figur yang terhormat yang merepresentasikan kasih sayang," ujar Ponimin kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (29/10/2017).

Sementara di dua ruangan di gedung DKM itu, keseluruhan keramik seni karya Ponimin dipajang. Keramik seni ini menggambarkan perjalanan kehidupan yang disimbolkan dengan kendi, air, dan sumber air.

Kendi merupakan alat penyimpan air minum. Saat ini, kendi bisa disebut perangkat minum zaman dulu karena perannya sudah digantikan oleh alat yang terbuat dari bahan plastik, kaca, atau alumunium.

"Kenapa kendi karena saya ingin mengangkat lagi kebudayaan lokal masyarakat Indonesia yang sudah tergerus. Masyarakat Indonesia pernah memiliki tradisi menyimpan air minum di dalam kendi, seperti halnya Tiongkok dan Jepang. Tetapi di dua negara ini tradisinya masih terjaga sampai akhirnya tea pot mereka terkenal, sedangkan di kita malah tergerus," tegas Ponimin.

Sementara patirtan, atau sumber air merupakan hal penting dalam peradapan manusia. Kendi dan patirtan ini juga terinspirasi dari patung Garudeya di Candi Kidal.

Simbol kendi, air (tirta), dan makhluk hidup ini terlihat di semua keramik seni karya seniman yang juga Dosen Universitas Negeri Malang itu. Aneka bentuk kehidupan yang berkaitan dengan air tersaji seperti terlihat dalam keramik berjudul 'menanti sumber patirtan kehidupan', 'pemuliyaan tirta amerta', atau 'elang kembar penjaga patirtan'.

Ponimin mempersiapkan selama tiga bulan untuk pameran tunggalnya kali ini. Keramik seni itu berbahan tanah liat dari Bantur, Kabupaten Malang, yang diperkuat dengan glasiran berbahan botol kaca limbah. Di beberapa karya, glasiran botol kaca limbah ini diteteskan secara acak ke tubuh keramik seni.

Sementara itu, Kepala Seksi Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Agung Bhuwana menambahkan, dinasnya sangat mendukung pameran tunggal tersebut.

"Karenanya ketika pembukaan selama, kami sangat mendukung. Melalui pameran ini kami juga mengharapkan mampung mengangkat sentra keramik di Kota Malang. Keramik seni karya Pak Ponimin sendiri juga bisa bersinergi dengan pelaku usaha pariwisata, seperti hotel dan resto," ujar Agung.

Di hari kedua pameran, puluhan pengunjung memadati gedung DKM. Terlihat sejumlah pelajar serius membuat kritik seni dari karya yang dipamerkan itu.

Sumber: SuryaMalang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved