Malang Raya

Yuk Intip Keseruan Bocah-Bocah TK di Kota Malang yang Asyik Belajar Permainan Tradisional

Berjalan di atas batok gampang-gampang susah. Ada siswa yang jalannya sambil menyeret. Ada juga yang bisa berjalan biasa meski agak perlahan.

Yuk Intip Keseruan Bocah-Bocah TK di Kota Malang yang Asyik Belajar Permainan Tradisional
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Permainan tradisional dikenalkan pada siswa KB/TK seperti egrang dari batok kelapa, Rabu (15/11/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Atar, siswa TK B Paud Terpadu Omah Bocah Annaafi Kota Malang mencoba permainan egrang dari batok kelapa, Rabu (15/11/2017). Sejumlah permainan tradisional dikenalkan kepada para siswa di halaman masjid depan di seberang sekolah.

Untuk bermain egrang, dua kaki diletakkan di batok kepala. Agar tak lepas saat jalan, ada tali panjang yang bisa dipegang tangan.

"Baru pertama kali ini main egrang. Agak susah tapi senang," ujar Atar kepada SURYAMALANG.COM.

Berjalan di atas batok gampang-gampang susah. Ada siswa yang jalannya sambil menyeret. Ada juga yang bisa berjalan biasa meski agak perlahan.

Selain egrang, siswa lain ada yang mengikuti permainan ular naga. Karena media permainannya besar, maka dadunya juga besar.

Ada juga siswa lain yang main engklek bersama. Sebelum memulai itu, siswa yang terbagi beberapa kelompok ada juga yang ikut mendengarkan dongeng tentang Jaka Tarub. Siswa duduk membentuk lingkaran. Kemudian ada pendongengnya.

Dikisahkan ada tujuh bidadari dari langit yang turun ke bumi untuk mandi. Satu bidadari tidak bisa kembali karena bajunya dibawa Joko Tarub. Akhirnya bidadari itu menikah dan memiliki anak.

"Bidadari itu apa ya, bu?" tanya seorang siswa kepada pendongeng. "Ya seperti malaikat dari langit," jawabnya.

Evi Widya Sukmawati, kepala sekolah menyatakan pihaknya menggandeng Komunitas Permainan Tradisional Banana Malang untuk kegiatan seperti ini.

"Permainan tradisional perlu dilestarikan. Sambil bermain anak-anak bisa bersosialisasi," kata Evi.

Menurut dia, permainan tradisional selalu dilakukan bersama. Berbeda dengan gadget yang individual. Di acara itu, wali murid juga diundang. Harapannya bisa dilakukan juga di rumah. Sebab waktu anak lebih banyak di rumah daripada di sekolah.

"Permainan tradisional juga murah," paparnya.

Saat ini sekolah sedang menyelesaikan buku mengenai permainan tradisional bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Kota Malang.

"Permainan tradisional bisa dimodifikasi. Misalkan engklek sambil bermain puzzle," jelas Eva.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved