Malang Raya

Komunitas Lontar Sansekerta Universitas Brawijaya Malang, Digitalisasikan Naskah Kuno Nusantara

Komunitas yang berdiri sejak 2015 itu rutin terjun ke masyarakat untuk menemukan berbagai naskah kuno klasik yang kondisinya mengenaskan.

Komunitas Lontar Sansekerta Universitas Brawijaya Malang, Digitalisasikan Naskah Kuno Nusantara
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Verdy Firmantoro, ketua dan pencetus komunitas Lontar Sansekerta menunjukkan salah satu naskah kuno dari Malang Selatan yang telah ia dokumentasikan, Senin (20/11/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Naskah kuno nusantara yang semakin terabaikan menjadi perhatian khusus bagi Komunitas Lontar Sansekerta Universitas Brawijaya.

Naskah kuno saat ini hanya disimpan oleh pra kolektor namun tidak banyak yang diedukasikan pada masyarakat.

Verdy Firmantoro, ketua dan pencetus komunitas tersebut mengatakan naskah kuno Indonesia memiliki dan menyimpan banyak pesan dan merupakan nilai identitas bangsa Indonesia.

"Bangsa Indonesia saat ini mengalami keterasingan dalam nilai-nilai identitasnya. Bangsa Indonesia memang mengalami kemajuan, namun nilai identitasnya mengalami keterasingan," ujar mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi itu pada SURYAMALANG.COM, Senin (20/11/2017).

Komunitas yang berdiri sejak 2015 itu rutin terjun ke masyarakat untuk menemukan berbagai naskah kuno klasik yang kondisinya mengenaskan.

"Naskah kuno yang bernilai identitas bangsa itu tidak diperhatikan. Di satu sisi hanya dianggap klenik atau mitos, dan di sisi lain diperjualbelikan untuk keuntungan beberapa pihak," lanjut Verdy.

Ia juga sempat membuktikan ketidakpedulian masyarakat pada naskah kuno dengan membuka donasi dana kepedulian untuk naskah kuno secara online.

Nyatanya hingga 2 bulan, tidak sepeser uang yang terkumpul.

Padahal jika naskah kuno dilestarikan dengan baik, banyak hal yang bisa dipelajari dari sana.

"Salah satunya dalam Falsafah Sultan Agung Mangkunegara IV yang tertulis di serat wulangreh, wedhatama, dan centini memiliki pesan Heneng, Hening, Heling, Hawas yang bisa dimaknai anti korupsi," ungkap manajer bidang kebudayaan dan spiritual Pusat Studi Peradaban UB itu.

Halaman
12
Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved