Malang Raya

Universitas Brawijaya Targetkan 10 Persen Riset Jadi Produk Konkret Tiap Tahun, Awas Faktor Ini

Lewat JKIEC, para inovator akan dipandu mengakselerasi implementasi risetnya dan mempertemukan dengan perusahaan.

Universitas Brawijaya Targetkan 10 Persen Riset Jadi Produk Konkret Tiap Tahun, Awas Faktor Ini
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
ILUSTRASI - Salah satu karya mahasiswa Universitas Brawijaya yang menang lomba Inotek 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Jusuf Kalla Innovation and Entrepreneurship Centre (JKIEC) Universitas Brawijaya yang baru saja diresmikan, Senin (4/12/2017), menjadi tempat akselerasi hilirisasi riset.

Hal itu dijelaskan oleh Rektor UB, Prof M Bisri pada SURYAMALANG.COM usai acara yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, dan Wali Kota Malang, M Anton.

“JKIEC menjadi pusat akselerasi hilirisasi riset. Ketika inovator butuh inkubasi, kami sudah ada juga badan inkubator untuk uji coba produk. Tapi ketika mereka masih bingung mau kemana dengan produknya, bisa lewat JKIEC,” jelas Bisri.

Lewat JKIEC, para inovator akan dipandu mengakselerasi implementasi risetnya dan mempertemukan dengan perusahaan.

“Bantuan dari pemerintah nanti berupa alat operasional. Jadi JKIEC ini fokus menjembatani antara inovator dan perusahaan,” katanya.

Ia mencontohkan Martha Tilaar yang tertarik dengan produk atsiri dari Institut Atsiri UB, namun masih kebingungan untuk menentukan produk yang sesuai.

Lembaga JKIEC juga akan menjembatani hal semacam itu.

Saat ini, UB telah memiliki 200 produk paten namun baru 20 persennya yang menjadi produk konkret.

“Targetnya setiap tahun ada 10 persen yang bisa menjadi produk yang berguna bagi masyarakat. Tapi kesulitannya ada pada proses, misalnya menunggu izin BPPOM saja memakan waktu 2 tahun,” keluhnya.

Menurut Bisri, peran pemerintah sangat penting untuk mendorong dan mewajibkan adanya kerjasama antara industri dan perguruan tinggi dalam hal riset dan pengembangan produk.

“Misalnya pabrik semen bisa menaruh lab riset dan pengembangan di ITS. Toh alat-alatnya juga sudah mumpuni. Jika belum ada dorongan ke arah sana, link and match produk perguruan tinggi dan dunia industri akan tetap lemah,” tuturnya. 

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Dyan Rekohadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved