Kamis, 9 April 2026

Malang Raya

Lima Mahasiswa Difabel Ikuti Wisuda Periode 6 Universitas Brawijaya

Lima mahasiswa difabel menjadi bagian wisuda periode 6 2017/2018 Universitas Brawijaya, Sabtu (16/12/2017).

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: Zainuddin
Istimewa
Pelaksanaan Wisuda di Universitas Brawijaya. 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Lima mahasiswa difabel menjadi bagian wisuda periode 6 2017/2018 Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (16/12/2017).

Lima mahasiswa itu adalah Zulfikar Anggoro Putro (ADHD), Faris Aditya (autisme), Jenny Nila Sari P (autisme), Barnabas Deni Bintang Putra (autisme), dan Laelatul Dwi Riza (tuna rungu) dari Fakultas Vokasi.

Lima mahasiswa menjadi bagian dari 1.188 lulusan dari 15 fakultas dan program Vokasi yang dikukuhkan dalam wisuda periode 6 UB.

Pada wisuda kali ini, peraih IPK tertinggi dan masa studi tercepat diraih Dwi Lis Mardiana Skom.

Dia membuat tugas akhir berjudul Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Pelaporan Pendataan Keluarga Berencana di Kabupaten Jombang.

Lulusan penyandang disabilitas, Zulfikar memiliki Attention Deficit of Hyperactive Disorder (ADHD).

Namun minat belajarnya tidak menurun.

Lulusan jurusan Public Relation itu mampu menyelesaikan pendidikan D3 dalam waktu tiga tahun.

Dia diterima menjadi mahasiswa UB pada 2014 mellaui jalur Seleksi Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD).

“Selama kuliah, saya didampingi sukarelawan dari Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB sampai bisa lulus ujian tugas akhir dengan nilai A dan B+,” tutur Zulfikar kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (15/12/2017).

Dia memilih jurusan Public Relation untuk melatih komunikasinya.

“Saya keinginan menjadi resepsionis di SMK saya,” ujar lulusan SMKN 2 Malang jurusan Perhotelan itu.

Dengan ilmu komunikasinya, dia bisa menjelaskan mengenai ADHD dan PSLD kepada temannya.

“Awalnya banyak yang tidak mengerti ADHD, lalu saya jelaskan.”

“Saya juga memperkenalkan PSLD di UB yang masih satu-satunya di Indonesia,” kata Zulfikar.

Dia berharap penyandang disabilitas bisa mendapat pekerjaan yang layak usai menyelesaikan sekolahnya.

“Setelah lulus, saya hanya berharap dapat bekerja karena tidak banyak lapangan pekerjaan untuk orang seperti kami di Indonesia,” ungkapnya.

“Di negara maju, kami bisa bekerja di perusahaan besar, misalnya di bidang IT,” tuturnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved