Senin, 4 Mei 2026

Malang Raya

Dosen Unisma Optimalkan Irigasi Pertanian di Kecamatan Tumpang, Bisa Jadi Obyek Wisata

Lulusan Teknik Pengairan UB itu akan membuat program komputer untuk merencanakan pola tata tanam petani.

Tayang:
Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Dosen Universitas Islam Malang, Dr Ir Eko Nurhayati MT 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Air merupakan sumber kehidupan. Namun kenyataannya masih banyak permasalahan di daerah aliran sungai Brantas.

Ketika hujan area tersebut banjir namun ketika kemarau terjadi kekurangan air yang bisa menyebabkan gagal panen.

Dosen Universitas Islam Malang, Dr Ir Eko Nurhayati MT yang sudah lama menggeluti bidang pengairan berusaha melakukan pengelolaan di daerah aliran sungan Brantas, salah satunya pada masalah irigasi.

“Saya melakukan optimasi dan efisiensi irigasi di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang bekerjasama dengan dinas terkait. Penelitian ini selama 4 tahun dan langsung diimplementasikan pada petani,” katanya pda SURYAMALANG.COM, Rabu (17/1/2018).

Yang dilakukan Eko adalah agar bagaimana air yang ada bisa dioptimalkan, dan menyampaikan ke petani mengenai pola tata tanam uang harus dterapkan agar hasilnya optimal dengan jumlah air yang dimiliki.

“Karena pola tata tanam itu tidak boleh sembarangan dan harus sesuai dengan yang direncanakan agar aliran airnya optimal diterima tanaman,” jelas dosen Teknik Sipil Unisma itu.

Penelitian optimalisasi yang dilakukan Eko berupa pembuatan teknologi tepat guna yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Dengan dana Dikti sebesar Rp 145 juta, ia menggandeng Polinema untuk pembuatan teknologi.

Lulusan Teknik Pengairan UB itu akan membuat program komputer untuk merencanakan pola tata tanam petani.

Tanaman yang ditanam juga direncanakan modelnya selama satu tahun.

“Petani di sana sudah meniliki himpunan petani pemakai air, tapi memang masih kurang aktif dan harus ada peningkatan pengetahuan dengan edukasi dari akademisi. "

"Masalahnya juga ada pada pintu air yang tidak sesuai dengan kebutuhan,” ungkapnya.

Pintu air yang ia maksud itu ada yang alirannya terlalu besar yang membuat tanaman mati, dan ada juga yang tidak memiliki pintu air.

“Mereka sangat terbuka untuk menyampaikan permasalahan yang dirasakan. Harapannya juga kami bisa membantu membuat pintu air yang lebih baik dan murah,” tuturnya.

Ke depan, rencanannya ia juga bergerak pada irigasi menggunakan sprinkler (alat penyembur air) di tengah sawah yang bisa djadikan obyek wisata. 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved