Breaking News:

Nasional

Fredrich Yunadi Kesal, KPK Sita Surat Setya Novanto kepada Jokowi

FREDRICH YUNADI: "Semua diambil. Kartu Peradi diambil. Jangan-jangan surat nikah saya juga diambil sekalian.

Editor: yuli
istimewa
Fredrich Yunadi saat menjadi pengacara Setya Novanto ketika bertemu dengan dokter Bimanesh Sutarjo. 

SURYAMALANG.COM, JAKARTA - Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi heran dengan langkah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita surat permohonan perlindungan dari Setya Novanto kepada Presiden Joko Widodo.

Penyitaan itu dilakukan saat penggeledahan di kantor biro hukum milik Fredrich di Gandaria, Jakarta Selatan.

"Masa sekarang surat permohonan perlindungan ke presiden yang dilakukan pak SN (Setya Novanto) diambil. Surat kuasa untuk yang mengajukan gugatan ke MK diambil. Gugatan saya, permohonan kami di MK diambil," kata Fredrich usai menjadi saksi dalam kasus dugaan merintangi penyidikakn terhadap Setya Novanto di gedung KPK, Senin (22/1/2017).

Menurut dia, seharusnya barang-barang yang disita penyidik hanyalah yang terkait dengan perkara.

"Semua diambil. Kartu Peradi diambil. Jangan-jangan surat nikah saya juga diambil sekalian," ujar Fredrich.

Fredrich tidak percaya kalau ada barang bukti yang tidak terkait kasus disita, nantinya akan dikembalikan oleh KPK.

"Apa yang dibalikin. Tanya aja. Pasca persidangan (dikembalikan) itu bohong itulah. Hanya teori. Itu enggak bener," ujar Fredrich.

Dia juga membantah tuduhan KPK seluruhnya, termasuk yang menyangkut kesehatan Novanto. KPK sebelumnya menduga Fredrich bersama dokter RS Medika Permata Hijau memanipulasi data medis Novanto.

Menurut dia, kalau kesehatan Novanto rekayasa, mengapa setelah dipindahkan dari RS Medika Permata Hijau ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), mantan Ketua DPR itu justru dirawat selama tiga hari.

"Saya tanya, kalau memang ini enggak bener, RSCM kan suruh pulang dong. Enggak usah nginap. Kenapa ini suruh rawat tiga hari enggak jadi tersangka, kalau yang satu hari jadi tersangka. Yang tiga hari jadi pahlawan. Apa itu kriminalisasi yang terselubung," ujar Fredrich.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved