Rokok Elektrik

Tren Rokok Elektrik Meningkat, Begini Kata Ketua Gabungan Perusahaan Rokok Jatim

KETUA GABUNGAN PERUSAHAAN ROKOK JATIM mengakui, penjualan rokok menurun hingga 9 persen. Lalu, apa katanya soal vape?

Tren Rokok Elektrik Meningkat, Begini Kata Ketua Gabungan Perusahaan Rokok Jatim
yul
ILUSTRASI - E-cigarette atau rokok elektrik, disebut juga vape atau vapor. 

Ia meyakini, pangsa pasar rokok dan vape hingga saat ini masih berbeda.

Ini berbalik dengan kondisi di lapangan yang menunjukkan pengguna vape banyak yang berasal dari orang-orang yang sebelumnya perokok.

“Untuk rokok, sudah ada taste tersendiri. Vape tidak bisa menyamai taste rokok yang ada. Jadi, kami tidak khawatir. Apalagi, sudah akan dikenakan cukai 57 persen – yang termasuk cukai tertinggi,” ungkap Sulami.

Bicara soal tren dan data, vape mulai booming di Indonesia pada 2015, berdasarkan keterangan Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI).

Sementara data Philip Moriris International menunjukkan, tahun itu adalah tahun pertama pangsa pasar rokok mengalami penurunan sejak 2005.

Jumlah rokok yang terjual pada 2014 adalah 341,5 miliar batang.

Setahun kemudian, jumlahnya turun menjadi 313,8 miliar batang.

Sulami mempercayai, penurunan penjualan rokok lebih disebabkan juga oleh kenaikan tarif cukai. “Itu sangat berpengaruh,” ujarnya.

“1 Januari 2018 ini, untuk kenaikannya, sesuai PMK (Peraturan Menteri Keuangan) 147, ini kenaikannya untuk SKM 12 koma sekian. Terus untuk SKT, kenaikannya juga cuma 7,8 persen. Kalau dirata-rata kenaikannya 10,4 persen,” terangnya. (Aflahul Abidin/M Taufik)

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved