Senin, 11 Mei 2026

Malang Raya

Terkait Masuknya Perguruan Tinggi Asing, Ini Sikap Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia

"Saya tidak yakin jika orang Indonesia yang ingin menyekolahkan anaknya ke PTA, pasti tetap mengirim keluar negeri,"

Tayang:
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Ketua Aptisi Jatim, Prof Dr Sukowiyono 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jawa Timur, Prof Dr Sukowiyono, berharap pemerintah mengajak bicara dulu perguruan tinggi swasta (PTS) sebelum memutuskan memberi izin masuknya Perguruan Tinggi Asing (PTA).

"Aptisi, Forum Rektor juga pemilik perguruan tinggi menolak," kata Sukowiyono kepada SURYAMALANG.COM, Senin (19/2/2018).

Menurut dia, rencana masuknya PTA itu satu paket dengan World Trade Organization (WTO). Memang agak sulit menolak jika sudah satu paket.

"Masak PTA boleh kelas jauh, mereka boleh, kita saja tidak boleh. Misalkan ada perguruan tinggi kita buka kelas jauh di Banyuwangi. Pasti sudah geger, " ujar Rektor Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang.

Kata dia, PTA nanti kemungkinan akan menerapkan model kelas tatap muka dan daring (dalam jaringan). Menurut dia, segmen kelas atas yang ingin disasar PTA pasti tetap ingin belajar keluar negeri.

"Saya tidak yakin jika orang Indonesia yang ingin menyekolahkan anaknya ke PTA, pasti tetap mengirim keluar negeri," kata dia. Misalkan belajar ke PTA di Inggris, Australia dll.

"Sebab mereka tak sekedar hanya belajar. Tapi juga mencari pengalaman etos kerja dan kulturnya," ujarnya. Ia mencontohkan ada PTS membuka jurusan Bahasa Mandarin.

Dengan selisih biaya tak beda jauh, mahasiswa lebih memilih belajar langsung ke negaranya. Dikhawatirkan jika segmen atas sasaran PTA tidak didapat maka akan menyasar segmen dibawahnya. Kalau sudah begitu akan habis pasarnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved